Liputanberita62.com -PAPUA TIMIKA. Oknum Kepsek SD Negeri ternama di Kabupaten Timika Provinsi Papua Tengah diduga tega merampas Dana bantuan Progam Indonesia Pintar (PIP) bernilai jutaan rupiah dari dua muridnya yang berhak menerima dana bantuan tersebut atau terbilang keduanya dari keluarga Miskin.
Melihat lebih dekat lagi keberadaan keluarga kedua anak tersebut sangatlah menyedihkan serta memilukan.
Diketahui dana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) merupakan program dari Pemerintah Republik Indonesia, bertujuan salah satunya agar Anak Usia Sekolah dapat mengecap dan duduk di bangku sekolah karena terbantunnya dari dana tersebut, sehingga berdampak pada generasi bangsa menjadi anak yang pintar dan tidak buta huruf.
Program ini juga di Peruntukkan bagi anak usia 6 Tahun sampai dengan 21 tahun, agar mendapat layanan Pendidikan sampai tamat pada satuan pendidikan Menengah.
Tetapi harapan tersebut terpaksa tidak dapat dinikmati oleh kakak beradik berinisial YPM dan YAM dari keturunan keluarga besar marga MACAWEYAU asli tanah Papua.
Mengingat tempat tinggal rumah mereka jauh dari sekolah, maka terpaksa harus kontrak rumah murah yang dekat dengan sekolah mereka. Walapun murah untuk membayar uang kontrakan namun tak sebanding dengan penghasilan yang didapat dari mata pencarian orang tuannya menjadi seorang penjual ikan di pinggir trotoar, akibatnya berdampak bagi kehidupan kakak beradik ini dalam penderitaan kekurangan hidup dalam keluarga.
Persoalan ini terungkap ketika awak media ini melakukan investigasi atau mendengar langsung pernyataan keluarga yang dimaksud tersebut.
Dari keterangan keluarga, bahwa kakak beradik akan menerima dana program PIP tersebut masing-masing sebesar Rp 950.000. Atau total akan diterima Rp 1.900.000.
Ketika orang tua mereka menghadap ke Kepsek, saat itu pula kepsek menyuruh agar pergi ke bank yang sudah ditunjuk untuk melakukan pengambilan atau pencairan dana bantuan PIP.
Namun disayangkan ketika berada di Bank yang di maksud, hanya menerima buku tabungan dan tidak ada saldo alias masih kosong.

Dengan adanya hal tersebut ada dugaan permainan oknum pihak bank dengan oknum pihak sekolah.
Betapa malang nasib Keluarga yang berkekurangan ini, padahal orang tua kedua siswa tersebut berharap dana bantuan yang ada dapat untuk membeli seragam dan perlengkapan peralatan sekolah.
Dengan mendatanggi langsung ke lokasi kontrakan oleh awak media ini, memang sangat memprihatinkan jangankan kursi sofa digunakan untuk duduk kursi biasapun tak di miliki.
Saat di kontrakan orang tua kakak beradik ini memperlihatkan surat termasuk buku tabungan yang saldo nya kosong tak ada nilai rupiahnya.
Yang menjadi pertanyaan apakah layak keluarga pribumi tersebut yang tinggal di tanahnya sendiri menderita seperti itu, padahal tanah Papua begitu kaya akan hasil alam seperti hasil tambang emas dan sementara itu keluarga yang di maksud tersebut bertempat tinggal di zona lokasi yang tidak jauh dari lokasi pertambangan emas Perusahaan Freeport.
(Penulis JS/tim Lb62)



































