Dampak Deflasi 6 Kali, Daya Beli di Sulut Menurun Tapi PE Tumbuh 5,13 Persen

Rina Mamonto salah satu penjual pakaian di salah satu ruko di kawasan bisnis Megamas Manado, sepi pembeli sejak Sulawesi Utara alami deflasi.

Liputanberita62.com – MANADO. Tiga bulan mendekati momen Natal dan Tahun Baru di Sulawesi Utara yang umumnya mengalami inflasi, namun kali ini justru terjadi deflasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional dan Sulawesi Utara (Sulut) mencatat hingga pada September 2024, Indonesia mengalami deflasi lima bulan berturut-turut. Sementara Sulut, sudah 7 bulan mengalami deflasi sejak Januari, Februari, Juli, Agustus dan September.

“Sulut alami deflasi 0,54 persen secara moon to moon (m-to-m). Komoditas penahan inflasi adalah harga daging ayam ras, tomat, dan juga sayuran,” jelas Kepala BPS Sulut Aidil Adha.

Terjadinya deflasi di Sulut, ikut memengaruhi turunnya daya beli masyarakat di sejumlah pelaku usaha kecil hingga menengah.

“Sudah beberapa bulan ini omzet kami turun. Pembeli sepi, sekalipun sudah menawarkan diskon 30 hingga 70 persen, omzet hanya naik sedikit,” ujar Rina Mamonto salah satu kasir toko pakaian di deretan ruko Kawasan Megamas Kota Manado saat ditemui, Selasa (8/10/2024) siang.

Meski begitu kata Rina, jelang Natal dan Tahun adalah momen yang sangat dinantikan sejumlah pelaku usaha di Kota Manado karena banyak orang dari pelosok di Sulawesi Utara belanja kebutuhan Natal di Kota Manado.

“Selain kebutuhan bahan kue dan pernah pernik Natal, kami juga di toko pakaian tentunya kecipratan rezeki (pembeli),” ujar gadis asal Kota Kotamobagu ini.

Tak jauh berbeda dialami sejumlah pedagang di pasar tradisional di Kota Manado. Rizky Bilatullah salah satu pedagang bumbu dapur di Pasar Bobo, Bailang, Kecamatan Bunaken Kota Manado mislanya ikut mengeluhkan sepinya pembeli.

Menurutnya sejak awal tahun 2024 hingga September jika dibandingkan tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, 2024 ini memang daya beli masyarakat turun dikisaran 30 persen.

“Pasokan tomat, sayur, dan bawang yang cukup melimpah dari sentra produksi membuat harganya terperosok. Hal inilah membuat konsumen banyak pilihan untuk tempat belanja, berimbas omzet kami juga ikut menurun,” kata Rizky.

Adapun kelas bumbu dapur yang masih stagnan hingga saat ini adalah cabai asal Gorontalo, dikisaran Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram. Sementara dua bulan belakangan ini, beberapa pasar di Kota Manado juga kedatangan cabai rawit dari Makasar, harganya seperdua dari cabai Gorontalo.

Meski cabai Gorontalo memiliki pesaing, namun masyarakat masih tetap lebih banyak memilih cabai Gorontalo dibanding Makassar dengan alasan cita rasa.

“Cabai Gorontalo cukup pakai sedikit sudah pedas, Makassar pedasnya agak kurang,” jelas Hikma salah satu warga saat ditemui belanja di Pasar Bersehati Kota Manado.

Sekedar informasi, jika di sejumlah wilayah di Indonesia umumnya inflasi lebih banyak disumbangkan makanan pokok, namun di Kota Manado dan Sulawesi Utara pada umumnya, cabai rawit adalah penyumbang inflasi tertinggi. Hal ini lantaran orang Sulawesi Utara sangat gemar memakan cabai rawit dalam berbagai hidangan.

Menurut Ekonom Vicky Masinambow Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Negeri (Unsrat) Manado mengakui, memang benar cabai rawit adalah salah satu komoditi penyumbang inflasi tertinggi di Sulut.

“Tapi pada Agustus 2024 lalu pendorong laju inflasi tertinggi menyalip cabai adalah daging babi sebesar 1,15 persen,” jelasnya.

Sementara secara persentase, lanjut Masinambow, antara deflasi dan inflasi memang sepanjang bulan berjalan 2024 ini, trend deflasi komoditinya masih memimpin.

“Untuk keluar dari zona deflasi, pemerintah sebaiknya melakukan kontrol pasokan dan harga hingga Natal dan Tahun Baru serta memperbaiki semua aspek yang diperlukan,” saran Masinambow.

Lanjutnya, salah satunya yang perlu ditingkatkan adalah ekonomi kreatif, di mana saat ini banyak komoditi melimpah dan murah. Kolaborasi pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan suatu produk berbahan dasar komoditi yang harganya anjlok itu. Misalnya tomat dijadikan soas tomat, begitu pun dengan komoditas lainnya dicarikan produk turunannya.

Jika hal ini tercipta, masyarakat tentunya memiliki pekerjaan tambahan yang menghasilkan. Bahkan tak menutup kemungkinan jika diseriusi dengan dukungan pemerintah dan produk itu diterima sangat baik di tengah masyarakat, tentunya akan menjadi motor perekonomian yang menggiurkan.

“Intinya kita harus kreatif dan selalu mencari selah melakukan hal-hal baik dan bermanfaat, salah satunya berkarya,” kunci Masinambow.

Masinambow berharap, deflasi beberapa bulan belakangan semoga bisa segera diatasi, karena Pertumbuhan Ekonomi (PE) Sulut pada triwulan II-2024 masih tumbuh sebesar 5,13% (y-on-y).

Pertumbuhan ini didorong oleh beberapa faktor, di antaranya pertumbuhan tertinggi pada lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 7,37%
pertumbuhan tertinggi pada komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sebesar 5,01%.

“Saya yakin pemerintah bisa mengatasi hal yang seharusnya diperbaiki, sehingga deflasi bisa diatasi dan pertumbuhan ekonomi makin membaik,” ungkap Masinambow.

Seperti diketahui sudah lima bulan bertubi-tubi Indonesia
mengalami deflasi atau penurunan harga dari Mei hingga September 2024. Deflasi pada September secara bulanan menyentuh level 0,12 persen atau naik dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,03 persen.

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan deflasi bisa memberikan dampak buruk bagi petani hingga pedagang pasar di Indonesia. Sebab, harga beli produk yang menurun bisa membuat keuntungan petani dan pedagang turun. Sedangkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yakin deflasi lima bulan beruntun bukan sinyal negatif bagi perekonomian.(Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *