Dua Remaja Pendaki Saksi Kecelakaan Pesawat di Gunung Bulusaraung.

Liputanberita62.com, MAKASAR. Perjalanan Hobi Menjadi Momen Tragis yang Mengingatkan pada Nilai Kasih Sayang Antar Manusia

APA seharusnya menjadi hari yang menyenangkan untuk menikmati keindahan alam dari ketinggian, berubah menjadi pengalaman menyayat perasaan bagi dua remaja pendaki gunung.

Reski (20 tahun) dan Muslimin (18 tahun) yang telah berkali-kali menjelajahi jalur pendakian, pada Sabtu siang (17/1/2026) tengah merenungkan pesona karya Ilahi di Puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, saat itu pula, mereka secara tak terduga menjadi saksi mata langsung kecelakaan pesawat yang sedang terbang dari Yogyakarta ke Makassar.

Dengan mata terpaku, mereka menyaksikan pesawat berwarna putih dengan aksen biru melintas rendah sebelum dengan keras menyerempet ke lereng batu yang menjulang tinggi.

“Kami baru saja menikmati pemandangan, tiba-tiba pesawat muncul dan langsung mengikis gunung itu. Tak butuh waktu lama kemudian terdengar ledakan dan nyala api menjulang,” cerita Reski dengan suara yang masih menggema perasaan takut dan duka, saat menceritakan momen yang hanya berlangsung dalam hitungan detik.

Pesawat yang mengalami tragedi yang dilihatnya itu diduga kuat pesawat jenis ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT, milik Indonesia Air Transport.

Pesawat ini sedang dipergunakan untuk mendukung misi penting Tim Air Surveillance Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang bertugas memantau wilayah kelautan dan perikanan negara.

Kejadian terjadi sekitar pukul 13.00 Wita. Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, pesawat melintas begitu dekat sehingga kedua remaja bisa melihatnya dengan jelas.

Jarak mereka dengan lokasi benturan hanya sekitar 100 meter, bahkan Reski harus menyadari bahwa serpihan pesawat telah berhamburan hingga ke tempat mereka berdiri.

“Saya dari Pondok Pesantren DDI Tobarakka, Siwa Wajo. Segala sesuatu terjadi begitu cepat, saya tidak punya waktu untuk merekam semuanya,” ungkap Reski dalam keterangan di platform sosial media.

Setelah ledakan, mereka menemukan beberapa serpihan badan pesawat yang masih jelas menampilkan logo Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta tumpukan dokumen yang terlempar ke sekeliling area.

Dengan penuh kesadaran akan pentingnya bukti, Reski segera merekam temuan tersebut menggunakan ponselnya sebelum memutuskan untuk turun gunung dan dilandai rasa khawatir akan keselamatan diri dan kondisi sekitar lokasi kecelakaan.

Mereka tiba di wilayah Balocci setelah melaksanakan Salat Ashar, membawa bukan hanya beban fisik dari perjalanan turun, tetapi juga beban emosional karena membawa kabar duka yang menyakitkan hati. Serpihan pesawat yang mereka bawa kemudian diserahkan dengan penuh tanggung jawab kepada pihak berwenang di Posko Penanganan Kecelakaan Bulusaraung, menjadi bagian penting dalam proses penyelidikan yang sedang berlangsung.

Yah…di tengah kesedihan yang melanda, tak ada salahnya mengucapkan doa dan belasungkawa yang paling dalam kepada keluarga dan sanak saudara korban kecelakaan ini.

Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik bagi para korban, dan memberikan kekuatan serta ketabahan bagi mereka yang ditinggalkan.

Kita juga patut memberikan apresiasi yang tinggi kepada Reski dan Muslimin, dua pemuda yang dalam kondisi penuh tekanan tetap mampu bertindak dengan bijak dan bertanggung jawab, menjadi jembatan informasi penting bagi pihak berwenang dan masyarakat.

Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa kehidupan adalah anugerah yang berharga, dan dalam setiap ujian yang datang, kita harus saling mendukung dan menguatkan satu sama lain.

Semoga proses penyelidikan dapat menemukan akar penyebab kejadian dengan cepat, sehingga dapat menjadi pembelajaran berharga untuk meningkatkan keamanan penerbangan dan melindungi setiap nyawa yang dipercayakan kepada langit.

Hidup tak selalu berjalan sesuai yang kita harapkan, tetapi dalam setiap ujian ada pelajaran yang menghiasi jiwa. Kasih sayang adalah tali yang mengikat kita sebagai manusia, bersama kita kuat, bersama kita bisa melewati setiap badai dan menemukan cahaya harapan di ujung jalan.

BERIKUT RINGKASAN KECELAKAAN PESAWAT ATR 42-500 PK-THT

Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan melakukan penerbangan dari Yogyakarta ke Makassar pada 17 Januari 2026. Saat pendekatan pendaratan, pesawat keluar jalur dan hilang kontak, kemudian disaksikan oleh dua pendaki Reski (20) dan Muslimin (18) menyerempet dan meledak di lereng Gunung Bulusaraung sekitar pukul 13.00 WITA.

JAM PENEMUAN SERPIHAN PESAWAT (18 JANUARI 2026):

⏰ 06.15 WITA: Tim SAR gabungan mulai operasi (tim darat dengan drone & tim udara dengan helikopter)

⏰ 07.46 WITA: Ditemukan serpihan kecil berupa jendela pesawat

⏰ 07.49 WITA: Ditemukan bagian besar badan dan ekor pesawat di lereng bawah gunung

INFO PENTING LAINNYA:
✓Jumlah Korban: 11 orang (8 kru + 3 penumpang), termasuk Pramugari Florencia Lolita Wibisono yang berdarah Sulawesi Utara

✓ Lokasi: Perbatasan Kabupaten Maros & Pangkep, Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan

✓ Tim SAR: Didukung sekitar 1.200 personel, drone, dan helikopter Caracal H225 TNI AU

✓ Tujuan Informasi: Memastikan keluarga korban dan publik mendapatkan update akurat secara cepat.

(M.Golindra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *