LiputanBerita62.com Lebak – Proyek Preservasi Jalan Sampay – Gunungkencana yang berada di bawah kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Banten menjadi sorotan publik.
Pasalnya, berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi fisik beton pada ruas jalan tersebut diduga sudah mengalami retak, padahal pekerjaan disebut masih dalam tahap pelaksanaan 27/2/2026.
Dalam papan informasi proyek yang terpasang di lokasi, tercantum kegiatan dengan nilai anggaran Rp 8.049.070.000, waktu pelaksanaan 150 hari kalender tahun anggaran 2025–2026, serta pelaksana kegiatan oleh CV. Falby Putra Mandiri dengan konsultan supervisi gabungan.
Retakan Jadi Tanda Tanya

Foto yang beredar memperlihatkan bagian beton yang tampak retak memanjang hingga ke sisi bawah struktur. Retakan tersebut memicu pertanyaan masyarakat terkait kualitas pekerjaan dan pengawasan teknis di lapangan.
Apakah retakan tersebut masuk kategori retak rambut (hairline crack) yang masih dalam batas toleransi teknis? Atau justru mengindikasikan persoalan mutu beton, campuran material, atau metode pengerjaan?
Aktivis yang dikenal dengan sapaan King Naga turut menyoroti kondisi ini. Ia mempertanyakan kualitas pekerjaan dan meminta transparansi dari pihak terkait.
“Kalau pekerjaan belum selesai tapi sudah terlihat retak, publik wajar bertanya. Apakah ini murni teknis, atau ada hal lain yang perlu dibuka ke masyarakat?” ujarnya.
Ia juga menegaskan agar tidak ada praktik-praktik yang mencederai kualitas proyek infrastruktur.
“Jangan sampai ada asumsi liar di masyarakat soal dugaan setoran proyek sekian persen ke oknum tertentu. Kalau memang tidak ada, buktikan dengan kualitas pekerjaan yang baik dan transparan,” tambahnya.
Masyarakat berharap pihak Satker dan kontraktor memberikan penjelasan terbuka terkait kondisi tersebut. Apalagi proyek jalan nasional menyangkut keselamatan pengguna jalan dan menggunakan anggaran negara yang tidak sedikit.
Pengamat konstruksi menyebutkan bahwa dalam proyek beton jalan, retakan bisa terjadi akibat beberapa faktor seperti:
Proses curing (perawatan beton) yang kurang optimal
Mutu material tidak sesuai spesifikasi
Beban sebelum umur beton cukup
Namun demikian, diperlukan uji teknis untuk memastikan apakah retakan tersebut bersifat struktural atau hanya retak permukaan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana maupun pengawas proyek terkait kondisi tersebut. Publik menunggu klarifikasi resmi demi menjaga kepercayaan terhadap pembangunan infrastruktur di wilayah Lebak, Banten.
Jika benar hanya persoalan teknis ringan, tentu harus segera diperbaiki. Namun jika ditemukan kelalaian, maka evaluasi dan tindakan tegas menjadi keharusan.
Karena pada akhirnya, jalan dibangun bukan sekadar mengejar serapan anggaran — tetapi demi keselamatan dan kepentingan masyarakat luas.






























