
SIDOARJO|Liputanberita62.com– Semangat toleransi dan perdamaian dunia terpancar dari deru langkah puluhan biksu yang melintasi aspal panas Jawa Timur. Sebanyak 58 biksu dari berbagai negara di Asia Tenggara terpantau singgah di Kabupaten Sidoarjo pada Kamis (14/5/2026). Kehadiran mereka merupakan bagian dari rangkaian ritual jalan kaki bertajuk Indonesia Walk for Peace 2026.
Para biksu tersebut sedang menempuh perjalanan spiritual sejauh 666 kilometer. Perjalanan dimulai dari Brahmavihara Arama, Bali, pada Sabtu (9/5) lalu, dengan tujuan akhir Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Aksi ini dilakukan untuk menyambut Hari Raya Waisak yang jatuh pada akhir Mei mendatang.
Membawa Pesan Toleransi Global
Koordinator pendamping perjalanan, Romo Wawan, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah gerakan sukarela untuk menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan.
”Ini adalah gerakan sukarela. Kami ingin menyampaikan nilai toleransi antarumat beragama dan perdamaian dunia. Setiap langkah yang dilakukan para biksu adalah kontribusi nyata untuk menciptakan kedamaian bagi keluarga, bangsa, dan dunia,” ujar Romo Wawan saat ditemui di sela-sela istirahat rombongan di Sidoarjo.
Peserta thudong atau perjalanan kaki tahun ini tercatat berasal dari Thailand, Malaysia, Laos, Singapura, dan Indonesia. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang memulai rute dari Thailand, tahun ini Bali dipilih sebagai titik keberangkatan untuk mengeksplorasi keindahan dan keberagaman di Pulau Jawa.
Tantangan Cuaca Ekstrem Jawa Timur
Perjalanan melintasi Jawa Timur diakui memiliki tantangan tersendiri, terutama suhu udara yang ekstrem. Cuaca panas yang diperkirakan mencapai 38 hingga 40 derajat Celsius menjadi ujian fisik utama bagi para peserta.
Untuk menjaga kesehatan para biksu, panitia telah menyiapkan protokol kesehatan yang ketat.
Antisipasi Suhu: Penggunaan handuk es untuk menjaga suhu tubuh.
Kolaborasi Lokal: Bantuan dari tim pemadam kebakaran di titik-titik dengan suhu tertinggi untuk penyiraman jalan atau area istirahat.
Logistik: Ketersediaan cairan hidrasi yang dipantau secara berkala oleh tim medis.
Sambutan Hangat Masyarakat Indonesia
Meskipun harus menghadapi terik matahari, para biksu mengaku terkesan dengan keramahan warga lokal. Biksu Jek, salah satu peserta asal Kedah, Malaysia, mengungkapkan rasa kagumnya terhadap toleransi masyarakat di Indonesia.
”Sangat menyenangkan berjalan di Indonesia. Walaupun cuaca cukup panas, itu tidak menjadi halangan. Masyarakat di sini sangat ramah, sering menyapa dan menyambut kami dengan baik,” tutur Biksu Jek yang telah tiba di Indonesia sejak 7 Mei lalu.
Setelah melintasi Sidoarjo, rombongan dijadwalkan bermalam di sebuah wihara di Surabaya. Dengan target jarak tempuh rata-rata 30 hingga 40 kilometer per hari, rombongan diprediksi akan tiba di Candi Borobudur pada 28 Mei 2026, tepat sebelum puncak perayaan Waisak dimulai (Dwi Yani)





























