CIANJUR – LiputanBerita62.com– Di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi masyarakat pedesaan, semangat gotong royong kembali membuktikan kekuatannya. Bertahun-tahun menanti perbaikan jalan yang tak kunjung terealisasi, warga Kampung Sukawening, Desa Sukakerta, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, akhirnya memilih bergerak sendiri membangun akses jalan lingkungan melalui kegiatan pengecoran secara swadaya, Selasa (09/06/2025).
Kegiatan yang digagas oleh para pemuda yang tergabung dalam Remaja Sukawening Bersatu (RSB) tersebut mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Puluhan warga dari berbagai kalangan turun langsung ke lapangan, menyatukan tenaga, waktu, dan kepedulian demi mewujudkan jalan yang lebih layak bagi kepentingan bersama.
Sejak sore hingga malam hari, suasana kebersamaan begitu terasa. Warga tampak bergotong royong mengangkut material, mencampur semen dan pasir, menata batu pondasi, hingga mempersiapkan badan jalan yang akan dicor. Tidak ada upah, tidak ada imbalan. Yang ada hanyalah semangat kebersamaan dan keinginan kuat untuk menghadirkan perubahan bagi lingkungan mereka.
Jalan yang diperbaiki merupakan akses utama masyarakat yang selama ini kondisinya memprihatinkan. Permukaan jalan yang hanya berupa timbunan batu koral sudah mengalami kerusakan cukup parah, dipenuhi lubang dan bebatuan lepas yang membahayakan pengguna jalan.
Saat musim hujan, jalan tersebut berubah menjadi licin dan berlumpur sehingga menyulitkan aktivitas warga. Sementara pada musim kemarau, debu beterbangan dan mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar. Kondisi itu tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga berdampak pada aktivitas pendidikan, kesehatan, dan perekonomian masyarakat setempat.
Pemuda Menjadi Motor Penggerak Perubahan
Pantauan di lokasi menunjukkan para pemuda yang tergabung dalam Remaja Sukawening Bersatu (RSB) menjadi motor utama dalam pelaksanaan kegiatan. Mereka tidak hanya bertugas mengoordinasikan pekerjaan, tetapi juga terjun langsung mengerjakan proses pengecoran bersama warga.
Di tengah hamparan persawahan dan suasana pedesaan yang asri, kebersamaan antara pemuda dan masyarakat menjadi pemandangan yang sarat makna. Dokumentasi kegiatan memperlihatkan bagaimana budaya gotong royong masih hidup dan menjadi kekuatan sosial yang mampu menjawab berbagai kebutuhan masyarakat.
Melihat kondisi jalan yang semakin memprihatinkan dan keterbatasan bantuan pembangunan yang tersedia, tokoh masyarakat bersama jajaran RSB sepakat mengambil langkah nyata melalui pembangunan secara mandiri berbasis swadaya masyarakat.
Dana pembelian semen, pasir, serta kebutuhan material lainnya dikumpulkan dari sumbangan sukarela warga dan anggota organisasi. Sementara seluruh tenaga kerja berasal dari masyarakat yang dengan ikhlas menyumbangkan tenaga dan waktunya demi kepentingan bersama.
Ketua Remaja Sukawening Bersatu (RSB), Andri Setiawan, mengatakan bahwa tingginya partisipasi masyarakat menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan masih menjadi kekuatan utama dalam membangun lingkungan.
“Kami percaya pembangunan tidak harus selalu menunggu bantuan dari luar. Ketika masyarakat memiliki kepedulian yang sama dan mau bergerak bersama, keterbatasan anggaran bukan lagi penghalang. Hari ini mungkin pekerjaan belum selesai seluruhnya, tetapi semangat warga membuktikan bahwa kami siap menuntaskannya hingga benar-benar rampung,” ujar Andri Setiawan.
Menurutnya, pembangunan jalan tersebut bukan hanya bertujuan memperbaiki akses transportasi, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Setelah seluruh proses pengecoran selesai, jalan tersebut diharapkan mampu memperlancar aktivitas warga, mempermudah akses pendidikan dan pelayanan kesehatan, serta mendukung peningkatan perekonomian masyarakat Desa Sukakerta secara umum.
Warga Sambut Positif Pembangunan Swadaya
Apresiasi juga datang dari warga yang turut merasakan manfaat dari kegiatan tersebut. Mereka mengaku bangga melihat peran aktif para pemuda dalam mendorong perubahan di lingkungan kampung.
“Kami sangat senang dan bangga melihat para pemuda bergerak untuk kepentingan masyarakat. Jalan ini sudah lama menjadi keluhan warga karena kondisinya rusak dan sering membahayakan pengguna jalan. Kami siap kembali bergotong royong sampai pekerjaan ini selesai agar manfaatnya bisa dirasakan bersama,” ungkap salah seorang warga.
Hingga kegiatan berakhir, proses pengecoran masih akan dilanjutkan pada tahap berikutnya sesuai hasil musyawarah warga. Sebelum pekerjaan dihentikan sementara, dilakukan pengecekan terhadap hasil yang telah dikerjakan serta arahan mengenai perawatan pada bagian jalan yang sudah dicor agar kualitas pembangunan tetap terjaga.
Kegiatan kemudian ditutup dengan makan bersama yang berlangsung penuh keakraban. Selain sebagai bentuk rasa syukur, momen tersebut juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga yang selama ini menjadi kekuatan utama dalam kehidupan bermasyarakat.
Dari Sukawening, Semangat Persatuan Menginspirasi
Apa yang dilakukan warga Kampung Sukawening bukan sekadar membangun jalan lingkungan. Lebih dari itu, mereka sedang membangun harapan, memperkuat persatuan, dan menunjukkan bahwa perubahan dapat diwujudkan ketika masyarakat memiliki kemauan untuk bergerak bersama.
Di saat banyak pihak memilih menunggu, warga Sukawening memilih bertindak. Di saat keterbatasan dianggap sebagai hambatan, mereka membuktikan bahwa kebersamaan mampu menjadi solusi.
Semangat yang ditunjukkan para pemuda Remaja Sukawening Bersatu (RSB) bersama masyarakat menjadi contoh bahwa pembangunan sejatinya tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan oleh kuatnya kepedulian, solidaritas, dan keberanian untuk memulai.
Dari sebuah kampung di pelosok Cianjur, lahir sebuah pelajaran berharga: gotong royong tidak pernah kehilangan kekuatannya. Ketika masyarakat bersatu, keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan motivasi untuk menciptakan perubahan yang nyata.
(Achmad Khotib Kaperwil Banten )
































