MINSEL – Liputanberita62.com. Pengadangan calon ketua DPC Partai Gerindra kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) diperbincangkan di dunia jagad media sosial dan lebih parahnya lagi ada sebuah wacana dengan menyatakan atau meyakinkan bahwa dirinya layak sebagai ketua DPC di Kabupaten Minsel.
Orang tersebut tidak lain adalah Frede Aries Massie (FAM) yang notabene pernah menjadi Ketua DPC Partai Gerindra Minsel, terkait hal tersebut awak media Liputanberita62 meminta tanggapan dari sejumlah kader partai Gerindra.
Salah satu Kader Gerindra sebelum menjawab lebih dalam lagi, dirinya mengingatkan bahwa Pemilihan dan penempatan kader terlebih menjadi seorang ketua DPC di setiap Kabupaten sangat bergantung pada sistem hierarki, loyalitas, dan instruksi atau satu komando pimpinan.
Lanjut dikatakannya, bagaimana dengan sosok seorang FAM yang ingin menjadi ketua DPC Gerindra di Kabupaten Minsel, itu dipastikan tidak akan terjadi. Karena sosok FAM dapat dikatakan tidak Loyalitas bersama partai Gerindra.
“Jangankan ketua DPD partai Gerindra Sulawesi Utara (Sulut), masyarakat Minsel pada umumnya di tahun 2024 dibulan Juli lalu di kantor DPC partai Gerindra di Kelurahan Bitung, Kecamatan Amurang – Minsel tidak pernah dilupakan akan sikap tindakan seorang FAM yang dinilai fatal bagi marwah partai.
Dikala itu itu FAM masih menjabat sebagai Ketua DPC Gerindra Minsel, FAM secara mengejutkan menyatakan mundur di hadapan publik. Lebih sangat parah lagi saat itu sejumlah oknum tidak lain yang merupakan kubu dari FAM melakukan aksi nekat memprotes partai dengan merobek baliho Partai Gerindra serta baliho YSK yang saat itu maju sebagai Calon Gubernur Sulut.
Aksi tersebut dipandang tutup mata oleh seorang FAM artinya aksi tersebut dengan sengaja atau dibiarkan terjadi oleh seorang FAM, selain itu dikuatkan adanya rasa kecewa lantaran dirinya (FAM -red) tidak mendapat rekomendasi dari Gerindra untuk maju dalam bursa Pilkada sebagai Calon bupati atau calon wakil bupati di Minsel, sehingga rekaman aksi robek atribut organisasi itu pun sempat viral di media sosial.
“Lantas sekarang mau jilat lidah sendiri? Seenak jidatnya. Mungkin beliau lagi lucu-lucunya, sedang lupa diri tampaknya, dulu sobek baliho sekarang mau lagi, tak semudah itu itu Ferguso,” ungkap kader Gerindra Minsel yang enggan namanya ditulis, Senin (25/5)
Kader lainnya menegaskan bahwa roda organisasi DPC Gerindra Minsel saat ini sudah berjalan sangat baik di bawah komando Esther Kalangi, pasca-kepemimpinan dialihkan dari AGK.
Esther, yang juga merupakan anggota DPRD Minsel, dinilai sebagai figur yang tepat untuk membesarkan partai walapun seorang gender.
“Berikan kepercayaan dulu pada Esther Kalangi. Apalagi beliau dinilai sangat mampu memimpin. Meskipun seorang perempuan, beliau adalah kader muda yang matang, tenang, dan figur kerakyatan yang kuat,” tegas kader.
Sementara itu Wakil Ketua DPD Gerindra Sulut, Tommy Pantow, saat di hubunggi, menegaskan bahwa segala keputusan strategis partai, termasuk penunjukan untuk posisi legislatif, eksekutif (seperti menteri atau kepala daerah), dan kepengurusan internal, berada di tangan Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerindra.
Partai Gerindra adalah partai yang terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung dan setia akan satu komando pimpinan. Namun, ia mengingatkan ada aturan main yang harus dipatuhi.
“Kalau ada yang mau bergabung, silakan. Berproseslah menjadi kader dan tunjukkan loyalitas terlebih dahulu,” ujar Tommy Pantow yang juga sebagai pimpinan pusat TOPAN ’08
Ketua Topan sebutan akrab menjelaskan bahwa urusan pengisian jabatan strategis seperti posisi Ketua DPC memiliki mekanisme internal yang ketat dan sepenuhnya merupakan kewenangan DPD serta DPP Gerindra.
Ia juga menilai isu pergantian kepemimpinan di Minsel saat ini masih terlalu dini untuk digulirkan. “Apalagi sekarang Gerindra Minsel sudah punya nakhoda resmi,” tegas ketua Topan.
(Red-)






























