Jawa Barat |Liputanberita62.com— Fenomena cuaca tak biasa tengah menyita perhatian warga di berbagai wilayah Jawa Barat.
Meski memasuki musim kemarau yang seharusnya terasa panas dan kering, belakangan ini suhu udara justru turun drastis hingga terasa sangat dingin, menusuk hingga ke tulang. Warga mengaku harus mengenakan pakaian tebal, selimut tambahan, dan menyalakan penghangat ruangan untuk menghadapi dinginnya udara malam hingga dini hari.
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setempat, suhu udara di sejumlah daerah seperti Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, dan sekitarnya tercatat menyentuh angka 16°C hingga 19°C, bahkan di kawasan dataran tinggi bisa turun hingga 12°C. Kondisi ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata suhu pada musim kemarau yang biasanya berkisar antara 22°C hingga 28°C.
Lantas, apa penyebab di balik fenomena dingin ekstrem ini? Berikut penjelasan para ahli:
✅ 1. Adanya Aliran Udara Dingin dari Benua Asia
Menurut Kepala Bidang Informasi Iklim BMKG, masuknya massa udara dingin yang bergerak dari wilayah Asia ke arah selatan menjadi faktor utama. Meskipun lemah, aliran ini cukup memengaruhi lapisan udara di atas wilayah Jawa Barat, terutama saat langit cerah tanpa awan.
✅ 2. Langit Cerah Mempercepat Pelepasan Panas
Pada musim kemarau, tutupan awan sangat minim. Akibatnya, panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari terlepas kembali ke angkasa dengan sangat cepat saat malam tiba. Tanpa selimut awan yang menahan panas, suhu udara pun anjlok secara tajam.
✅ 3. Pengaruh Angin Lokal dan Topografi
Wilayah Jawa Barat yang didominasi oleh perbukitan dan pegunungan membuat udara dingin cenderung turun dan mengendap di lembah serta daerah dataran rendah. Sirkulasi angin malam yang berhembus dari arah pegunungan juga membawa udara bersuhu lebih rendah ke wilayah pemukiman.
✅ 4. Pola Perubahan Iklim Jangka Panjang
Para peneliti menyebutkan bahwa pergeseran pola iklim global juga turut berperan. Perubahan suhu permukaan laut dan tekanan udara di Samudra Hindia mengubah pola pergerakan massa udara, sehingga menimbulkan variasi cuaca yang lebih tidak menentu, termasuk penurunan suhu mendadak di luar kebiasaan.
BMKG mengimbau warga untuk tetap waspada dan menjaga kesehatan. Suhu dingin yang ekstrem dapat menurunkan daya tahan tubuh dan memicu penyakit seperti flu, batuk, hingga gangguan pernapasan. Disarankan untuk mengenakan pakaian hangat, menjaga asupan nutrisi, dan menghindari perubahan suhu secara mendadak.
Fenomena ini diprakirakan masih berlangsung dalam beberapa hari ke depan sampai pola tekanan udara kembali berubah. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca resmi dari BMKG guna menyesuaikan aktivitas sehari-hari.






























