Gubernur Olly bersama istri Ny Tamuntuan Terima Gelar Kehormatan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Oleh Sri Susuhunan Pakubuwono XIII

Berita, Minahasa Raya1096 Dilihat

LiputanBerita62.com – TONDANO. Gubernur Sulawesi Utara Prof DR (HC) Olly Dondokambey  resmi bergelar Kanjeng Pangeran Arya Dharmanegara.

Sementara  Mas Ayu Dharmaningtyas jadi gelar yang diterima Ir Rita Maya Dondokambey Tamuntuan.

Hal ini merupakan gelar kehormatan yang diberikan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, langsung oleh Sri Susuhunan Pakubuwono XIII.

Dalam penganugerahan tersebut, Senin (5/8), pihak Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, menyampaikan langsung ucapan terima kasih atas dukungan yang diberikan Gubernur Olly Dondokambey  bersama istri Ny Rita Tamuntuan bagi Keraton. Maka keduanya dinilai pantas untuk diberikan penganugerahan ini.

Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey dalam sambutannya menceritakan keberadaan  anak cucu cicit keturunan Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang mendiami dan terpelihara  dengan baik di pusat tanah Minahasa, tepatnya di Tondano.

Tondano sendiri merupakan Ibukota Kabupaten Minahasa. Minahasa sendiri suku terbesar di Provinsi Sulawesi Utara. Tondano bukan di pinggir pantai. Tapi berada jauh di tengah-tengah dan di daerah pegunungan tanah Minahasa.

Tapi  di sana, ada masyarakat keturunan Kasunanan Surakarta yang tinggal dan masih ada sampai sekarang. Yakni masyarakat Kampung Jawa Tondano. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat penduduk asli Tondano.

Bahkan Kiai Madja dan pengikutnya yang mengajarkan masyarakat Tondano menanam padi.

Kenapa masyarakat Kampung Jawa Tondano (Jaton) disebut keturunan Kasunanan Surakarta?  Karena masyarakat di Jaton dibawa oleh Kiai Madja (Kiai Mo jo). Siapa Kiai Madja?

Seperti dilansir dari wikipedia, Kiai Madja atau  Iman Abdul
Kiai Madja lahir dari pasangan Iman Abdul Ngarip dan R.A Mursilah. Ayah Kiai Madja adalah ulama besar yang dikenal dengan nama Kiai Baderan.

Baik ayah dan ibunya adalah keturunan bangsawan. Abdul Ngarip keturunan keluarga Kraton Surakarta yang memilih mengabdikan diri berdakwah agama Islam.

Seperti dilansir dari wikipedia, Kiai Madja atau  Iman Abdul
Kiai Madja lahir dari pasangan Iman Abdul Ngarip dan R.A Mursilah. Ayah Kiai Madja adalah ulama besar yang dikenal dengan nama Kiai Baderan.

Baik ayah dan ibunya adalah keturunan bangsawan. Abdul Ngarip keturunan keluarga Kraton Surakarta yang memilih mengabdikan diri berdakwah agama Islam.

Ibunya, R.A. Mursilah, merupakan saudara perempuan Sultan Hamengkubuwana III. Sejak lahir, Kiai Mojo tidak pernah berada di dalam lingkungan kraton.

Secara garis silsilah keluarga, Kiai Modjo dan Pangeran Diponegoro memiliki ikatan kekerabatan. Diponegoro yang sempat bergelar Bendara Raden Mas Antawirya adalah putra sulung Sultan Hamengkubuwana III dari istri selir.

Dengan demikian, Diponegoro adalah saudara sepupu Kiai Mojo. Sama seperti Kiai Madja, Diponegoro juga hidup di luar istana sejak kecil. Hubungan kekeluargaan antara keduanya semakin erat setelah Kiai Madja menikahi janda Pangeran Mangkubumi yang tidak lain adalah paman Diponegoro. Pangeran Diponegoro pun memanggil Kiai Madja dengan sapaan “paman” meski keduanya adalah saudara sepupu.

Semua pengikut Kiai Madja yang dibuang ke Tondano adalah laki-laki. Mereka kemudian menikahi perempuan setempat dan dari dua kebudayaan inilah lahir Kampung Jawa.

Mereka mendirikan Masjid Al-Falah dan mengislamkan beberapa perempuan Minahasa dan menyisakan tradisi-tradisi Islam Jawa hingga kini.

Penerus keturunan Kiai Madja biasa memakai nama Kiay Modjo. Salah satunya adalah dosen Bahasa Jerman di Universitas Sam Ratulangi, Julaiha Kiay Modjo. Ia berkata tak tahu lagi di mana orang-orang dengan nama marga Kiay Modjo tinggal di Kampung Jawa Tondano. Banyak juga marga Kiay Modjo yang tinggal di Gorontalo.
Etnis Jaton (Jawa Tondano).

Dalam Fakta Sejarah Kepahlawanan Kyai Modjo (2017: 97) dijelaskan:Modjo
“Dari segi etnis, komunitas Jaton menjadi salah satu subetnis Minahasa sebagai hasil asimilasi melalui perkawinan antara pengikut Kyai Mojo dengan keke’ (gadis) anak para Walak sejak Januari 1831.”

Minahasaraad (dewan Minahasa) mengakui Jaton sebagai subetnis pada 1919 dan Jaton tunduk pada hukum adat Minahasa.

Menurut Profesor Ishak Pulukadang, Jaton sebagai etnis maupun komunitas termasuk kawasan strategis provinsi dan sudah jadi Desa Budaya. Kampung Jaton kerap dikunjungi pejabat keturunan Jawa. Menurut warga setempat, Amien Rais, Abdurrahman Wahid, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X juga pernah berkunjung ke sana.

“Karena tahun 1826, Kyai Modjo datang ke Sulut, dengan 28 orang laki-laki. Kawin-mawin dengan masyarakat Sulut. Sehingga ada suku di Sulut, suku Jawa Tondano. Dan berkembang sampai hari ini, yang ikut memberikan sumbangsih yang besar bagi masyarakat Minahasa, bagaimana cara bercocok tanam yang baik,” ungkap Pulukadang, putra Jaton yang merupakan guru besar di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi Manado.

Gubernur Olly Dondokambey saat menerima penghargaan,  juga mengapresiasi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sebab menurut Gubernur,  merupakan suatu institusi budaya yang memiliki sejarah panjang. “Dan kaya akan nilai-nilai luhur sebagai salah satu simbol kebudayaan Jawa yang tetap lestari hingga saat ini.

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat telah memainkan peran penting dalam melestarikan adat istiadat, seni dan budaya bangsa kita,” terangnya.

“Saya mengapresiasi setinggi-tingginya dedikasi dan komitmen Keraton, dalam menjaga dan mempromosikan warisan budaya. Yang tentunya memberikan inspirasi bagi kita semua, untuk terus menjaga dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia,” tambah Gubernur OD.

Pasalnya kata Gubernur dua periode ini, gelar kehormatan ini memiliki makna yang sangat mendalam. Salah satunya sebagai amanah untuk terus berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara, khusus dalam mengemban tugas sebagai pemimpin daerah. “Kami pastikan akan menjaga amanat ini dengan sebaik-baiknya.

Serta terus berusaha memberikan kontribusi positif bagi pembangunan Sulut dan Indonesia secara keseluruhan. Kolaborasi dan sinergi, kami percaya bahwa banyak hal yang bisa kita lakukan bersama, antara pemerintah dan berbagai elemen masyarakat termasuk Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat,” tegasnya lagi.

Sebab menurutnya, ini adalah kunci utama dalam mencapai kemajuan dan kesejahteraan. “Maka kami sangat

berharap dapat menjalin kerjasama yang lebih erat dengan Keraton dan seluruh komponen masyarakat Jawa. Untuk bersama membangun bangsa yang lebih baik, lebih maju dan sejahtera,” terangnya sembari menggambarkan kini sekira 30 ribu masyarakat Jawa yang ada di Sulut, yang tersebar di 15 kabupaten/kota.

“Nanti dalam rangka memperingati HUT Provinsi di bulan Sepetember nanti, akan ada pagelaran seni Jawa bersama dengan masyarakat Jawa yang ada di Sulut,” katanya yang diiringi tepuk tangan semua yang hadir.

Untuk itu, melalui anugerah kehormatan ini, Gubernur OD berharap, dapat lebih memotivasi diri dan seluruh masyarakat, untuk terus berkarya dan berprestasi. “Kami juga berharap agar nilai luhur budaya yang dijunjung tinggi oleh Keraton
Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dapat menjadi teladan bagi generasi muda dalam membangun karakter bangsa yang kuat dan bermartabat. Semoga hubungan baik antara Sulut dan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dapat terus berjalan dengan erat,” katanya lagi. (**tim-JL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *