Ketua Badak Banten DPC Rangkasbitung Salurkan Bantuan Material untuk Warga Huntara Cigobang

Banten, Berita, Nasional187 Dilihat

LiputanBerita62.com – 16 januari 2026 Enam tahun telah berlalu sejak banjir bandang dan longsor meluluhlantakkan Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak. Namun hingga kini, puluhan warga penyintas masih bertahan di Hunian Sementara (Huntara) Cigobang dengan kondisi serba darurat. Bangunan yang mereka tempati jauh dari kata layak, sementara kepastian hunian tetap tak kunjung hadir.

Kondisi berkepanjangan ini memantik kegelisahan berbagai elemen masyarakat. Aliansi Masyarakat Lebakgedong bersama LSM GMBI, Ormas Badak Banten DPC Rangkasbitung, Forum Warga Bersatu (Forwatu) Banten, insan pers, mahasiswa, serta sejumlah elemen masyarakat sipil lainnya, bersatu dalam sebuah gerakan bertajuk “Gerakan Bangun (Gerbang) Huntara Cigobang 2026”.

Gerakan ini lahir dari rasa keprihatinan terhadap nasib warga Huntara Cigobang yang selama enam tahun terakhir dinilai terpinggirkan oleh kebijakan pemerintah yang lamban dan belum menyentuh kebutuhan dasar para korban bencana.

Sebagai bentuk aksi nyata, para relawan turun langsung menggelar penggalangan donasi di Alun-alun Rangkasbitung, pusat pemerintahan Kabupaten Lebak. Memasuki hari kelima aksi, gelombang solidaritas lintas elemen masyarakat kian menguat. Warga Rangkasbitung dan sekitarnya datang silih berganti memberikan bantuan, mulai dari kebutuhan logistik hingga material bangunan, sebagai wujud empati terhadap para penyintas.

Dukungan nyata juga datang dari Ketua Ormas Badak Banten DPC Rangkasbitung, Hendrik “Gobreg”, yang turut menyumbangkan material bangunan berupa dua losbak pasir dan bata hebel untuk warga Huntara Cigobang.

Dalam keterangannya, Gobreg menegaskan, persoalan Huntara Cigobang bukan sekadar soal bantuan, melainkan soal keadilan dan kemanusiaan yang terlalu lama diabaikan.

“Enam tahun itu bukan waktu yang sebentar. Ini menyangkut harkat dan martabat manusia. Warga Cigobang adalah korban bencana, bukan warga kelas dua yang boleh dibiarkan hidup tanpa kepastian,” tegas Gobreg.

Ia menekankan bahwa kehadiran Badak Banten DPC Rangkasbitung dalam gerakan ini bukan untuk mencari panggung, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap sesama warga Lebak yang sedang berjuang mempertahankan hidup di tengah keterbatasan.

“Kami datang karena empati. Kami ingin warga Cigobang tahu bahwa mereka tidak sendirian. Jika negara lambat hadir, maka masyarakat sipil harus bergerak. Ini soal kemanusiaan, dan itu tidak boleh ditunda,” lanjut Gobreg.

Gobreg berharap Gerakan Bangun Huntara Cigobang 2026 dapat menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kebijakan, agar tidak lagi menutup mata terhadap penderitaan para penyintas. Menurutnya, solidaritas masyarakat harus diiringi langkah nyata dan kebijakan tegas dari pemerintah.

Aksi solidaritas ini menjadi penanda bahwa jeritan warga Huntara Cigobang tidak sepenuhnya sunyi. Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian, dukungan masyarakat sipil hadir sebagai pengingat bahwa perjuangan untuk hidup layak masih terus menyala dan tidak akan berhenti sampai keadilan benar-benar dirasakan oleh para penyintas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *