Membumikan Semangat Kartini: Kepemimpinan Wiwin Winarti Hidupkan Kearifan Lokal Lewat Tradisi Tandur di Lebak”

LiputanBerita62.com Lebak, Banten — Semangat perjuangan kembali berdenyut di tanah Banten. Di Kampung Banjarsari, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, nilai-nilai emansipasi yang dahulu lahir dari kini menjelma menjadi gerakan nyata perempuan desa—dipimpin langsung oleh Ketua Kartini Forwatu Banten, Wiwin Winarti.

Sabtu (25/4/2026), di bawah kepemimpinan Wiwin Winarti, Kartini Forwatu Banten menggelar kegiatan tandur atau menanam padi di area persawahan Cibuah. Mengusung tema “membumikan tandur di momentum Hari Kartini sebagai penguat kearifan lokal”, kegiatan ini bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan gerakan sosial yang menyentuh akar kehidupan masyarakat.

Dengan penuh wibawa, Wiwin Winarti hadir di tengah-tengah peserta, menyatu dengan perempuan-perempuan desa yang mengenakan kebaya dan caping, turun langsung ke lumpur sawah. Kepemimpinannya tidak hanya tampak dalam arahan, tetapi juga dalam keteladanan—berdiri bersama, bekerja bersama, dan merasakan langsung denyut kehidupan rakyat.

Warisan pemikiran Kartini yang tertuang dalam seakan menemukan bentuk nyatanya di bawah kepemimpinan Wiwin. Emansipasi tidak lagi sekadar gagasan, tetapi menjadi aksi konkret yang menyentuh sektor pangan, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat.

Dalam keterangannya, Wiwin Winarti menegaskan bahwa perempuan harus tampil sebagai kekuatan utama dalam menjaga kehidupan.

“Kartini telah membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk berpikir maju dan mandiri. Hari ini, kami melanjutkan perjuangan itu melalui aksi nyata. Perempuan tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi pelaku—menjaga pangan, merawat budaya, dan memperkuat kearifan lokal,” ujarnya dengan tegas dan penuh wibawa.

Ia juga menekankan bahwa kegiatan ini adalah bentuk kepedulian terhadap masa depan generasi mendatang.

“Melalui tandur ini, kami ingin menanam lebih dari sekadar padi. Kami menanam nilai, menanam harapan, dan menanam semangat kebersamaan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman,” tambahnya.

Kehadiran Wiwin Winarti sebagai pemimpin perempuan di Kartini Forwatu Banten menjadi inspirasi tersendiri bagi para peserta. Ia tidak hanya memimpin organisasi, tetapi juga menjadi simbol perempuan yang berani turun langsung ke lapangan, menyatu dengan masyarakat, dan menggerakkan perubahan dari bawah.

Di tengah kegiatan tersebut, suara perempuan desa turut menguatkan makna perjuangan ini.

Ibu Yanti, salah satu peserta, mengungkapkan rasa bangganya.
“Kami ikut turun ke sawah bukan hanya untuk menanam padi, tapi juga menanam harapan. Dengan adanya Ibu Wiwin, kami merasa semakin semangat dan dihargai sebagai perempuan desa,” tuturnya.

Hal serupa disampaikan oleh Ibu Leni, warga setempat.
“Kami sudah terbiasa dengan sawah, tapi hari ini terasa berbeda. Ada semangat Kartini dan juga dorongan dari Ibu Wiwin yang membuat kami semakin percaya diri sebagai perempuan,” ujarnya.

Achmad Khotib, Kaperwil Nasional Tabloid Pilar Post yang turut melakukan peliputan, menilai sosok Wiwin Winarti sebagai figur pemimpin perempuan yang mampu menerjemahkan nilai Kartini ke dalam gerakan nyata.

“Di bawah kepemimpinan beliau, kegiatan ini bukan hanya simbolis, tetapi benar-benar menjadi gerakan yang hidup dan dirasakan masyarakat,” ungkapnya.

Kegiatan ini juga menjadi ruang kebersamaan lintas generasi. Anak-anak hingga orang tua hadir, menyatu dalam satu semangat: menjaga nilai-nilai lokal di tengah arus modernisasi.

Dari Jepara hingga Lebak, dari gagasan menjadi gerakan—perjalanan panjang perjuangan perempuan Indonesia terus berlanjut. Dan di tanah Banten hari ini, nama Wiwin Winarti hadir sebagai bagian dari jejak baru perempuan yang menghidupkan semangat Kartini dalam kerja nyata.

Tabloid Pilar Post mencatat, di balik lumpur yang melekat di kaki para perempuan itu, tersimpan jejak kepemimpinan, keberanian, dan harapan yang terus tumbuh.

Dari Lebak, perempuan bergerak. Dari tangan-tangan sederhana, lahir perubahan. Dan dari kepemimpinan Wiwin Winarti, semangat Kartini kembali menyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *