Hardiknas 2026, SMKN 1 Siantar Angkat Budaya dan Soroti Bahaya Game Online

Simalungun Sumut,Liputanberita62.com – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Siantar, Kabupaten Simalungun, memeriahkan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini dengan menampilkan keberagaman budaya Indonesia.

Para tenaga pendidik mengenakan pakaian adat Nusantara dalam upacara yang digelar pada Sabtu (2/5/2026).

Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala SMK Negeri (SMKN) 1 Siantar, M Syahrizal Damanik, membacakan sambutan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti.

Menurutnya, Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi momen yang tepat untuk menyebarkan pesan-pesan Ki Hajar Dewantara serta menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada siswa, salah satunya dengan mengingatkan bahaya bermain game online.

“Hobi ‘ngegame’ atau bermain gim online kini menjadi tren yang kian tak terbendung. Namun, tidak sedikit gim yang mengarah ke perjudian. Hal ini membuat banyak anak sekolah kecanduan gim beraroma judi,” ujarnya usai upacara Hardiknas di lapangan sekolah SMKN 1 Siantar.

Ia menambahkan, perkembangan dunia digital telah merambah hampir seluruh aspek kehidupan. Namun, masih banyak pengguna internet yang menerima informasi tanpa kemampuan memahami dan mengolahnya dengan baik.

Meski demikian, Syahrizal mengingatkan pentingnya kewaspadaan, terutama terhadap permainan yang membuat anak kecanduan dan lupa waktu.

“Bahkan, dalam banyak kasus, anak menjadi mudah marah, suka berbohong kepada orang tua, hingga nekat mencuri karena tidak ingin permainan tersebut dihentikan. Ini sangat berbahaya dan menjadi pekerjaan rumah bagi guru serta orang tua,” jelasnya.

Selain itu, Syahrizal juga menyoroti masih adanya persoalan serius di dunia pendidikan, yakni praktik perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.

Ia menegaskan bahwa perundungan tidak boleh lagi dianggap sepele karena berdampak langsung pada kondisi mental, prestasi, hingga masa depan peserta didik.

“Hardiknas harus menjadi momentum evaluasi bersama. Kita masih sering mendengar kasus bullying di sekolah dan ini harus dihentikan. Tidak boleh ada pembiaran. Karena itu, tim bimbingan konseling (BK) terus melakukan pengawasan terhadap peserta didik,” tegasnya.

Kasus perundungan kerap terjadi di dunia pendidikan. Tidak hanya siswa yang menjadi korban, tetapi juga guru yang dalam beberapa kasus justru dirundung oleh siswanya sendiri.

Berbagai faktor dapat memicu perilaku bullying, salah satunya pengaruh media sosial. Ia menyebut penggunaan gawai dan media sosial oleh anak-anak saat ini masih kurang terkontrol.

“Kami mengimbau peserta didik, khususnya di SMKN 1 Siantar, agar tidak terpengaruh dan meniru perilaku bullying di media sosial. Jika ingin maju, maka hentikan bullying. Hormati guru dan orang tua. Tidak ada kompromi terhadap segala bentuk kekerasan di sekolah,” tutupnya.

Peringatan Hardiknas 2026 diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi momentum penguatan komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan.

(Ibrahim Saragih/Susanti MS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *