SPPG Yayasan Hamim Center Founder Terapkan IPAL Sesuai Ketentuan BGN, Tegaskan Standar Dapur Gizi Ramah Lingkungan

Berita940 Dilihat

LiputanBerita62.com Lebak, 4 Mei 2026 — Komitmen terhadap pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab ditunjukkan oleh Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah naungan Yayasan Hamim Center Founder. Melalui penyediaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dapur ini memastikan setiap aktivitas produksi makanan tetap memperhatikan aspek sanitasi dan keberlanjutan.

Fasilitas IPAL yang digunakan dirancang mengacu pada ketentuan yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Sistem pengolahan limbah dilakukan secara bertahap, mulai dari proses penyaringan, pengendapan, hingga pengolahan lanjutan, sehingga air buangan yang dihasilkan berada dalam kondisi aman sebelum dialirkan ke lingkungan.

Langkah ini menjadi penting di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap dampak limbah dapur skala besar, khususnya dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis yang kini terus diperluas.

Perwakilan pengelola SPPG Yayasan Hamim Center Founder, Jumarta, SE., S.AP., menegaskan bahwa keberadaan IPAL bukan sekadar pemenuhan teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab sosial.

“Kami memastikan pengelolaan limbah berjalan mengacu pada standar BGN. Dengan begitu, operasional dapur tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan bergizi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan,” ujarnya.

Pengelolaan IPAL, lanjutnya, dilakukan melalui pemantauan harian serta perawatan berkala oleh petugas yang telah ditunjuk. Upaya ini untuk memastikan sistem tetap berfungsi optimal dan konsisten sesuai prosedur operasional.

Berdasarkan keterangan pengelola, fasilitas IPAL di seluruh SPPG Yayasan Hamim Center Founder juga telah melalui proses pengecekan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lebak sebagai bagian dari pengawasan teknis di lapangan.

Selain pengelolaan limbah, dapur SPPG turut dilengkapi peralatan penunjang berbasis efisiensi dan keamanan. Penggunaan kompor berteknologi terbaru diklaim mampu menekan konsumsi minyak goreng hingga 40 persen, sementara sistem pengering ompreng otomatis diterapkan untuk menjaga higienitas serta keselamatan relawan dapur.

Upaya terpadu ini memperlihatkan bahwa pengelolaan dapur program gizi tidak hanya berorientasi pada pemenuhan nutrisi, tetapi juga pada praktik operasional yang lebih bertanggung jawab. Model seperti ini diharapkan dapat mendorong standar serupa diterapkan secara lebih luas, seiring penguatan program gizi nasional yang berkelanjutan.

(Redaksi Tabloid Pilar Post)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *