Siantar, Sumut Liputanberita62.com
Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi SH MKn didampingi Ketua TP PKK Ny Liswati Wesly Silalahi membuka ritual Pradaksina dalam rangka Hari Raya Trisuci Waisak 2570 BE Tahun 2026, di Vihara Samiddha Bhagya, Jalan Thamrin Kelurahan Dwikora Kecamatan Siantar Barat, Sabtu (16/05/2026) malam.
Dalam sambutannya, Wesly mengaku berbahagia dapat bersama menghadiri pembukaan Pradaksina atau ritual mengelilingi kota dalam rangka perayaan Hari Trisuci Waisak 2570 BE Tahun 2026 di Kota Pematangsiantar.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kota Pematangsiantar, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada DPD Walubi Pematangsiantar-Simalungun beserta seluruh panitia yang telah menyelenggarakan kegiatan ini dengan penuh semangat kebersamaan dan nilai-nilai spiritual,” katanya.
Perayaan Hari Trisuci Waisak, lanjut Wesly, merupakan momentum suci bagi umat Buddha untuk mengenang tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan wafatnya Sang Buddha.
“Nilai luhur terkandung di dalamnya seperti cinta kasih, kedamaian, pengendalian diri, dan toleransi sangat relevan dalam kehidupan bermasyarakat saat ini. Geliat Pradaksina yang dilaksanakan malam ini bukan hanya menjadi simbol spiritual dan religius, tetapi menjadi wujud nyata harmoni serta kerukunan umat beragama di Kota Pematangsiantar. Saya berharap kegiatan ini dapat semakin mempererat persaudaraan, menjaga persatuan, serta menumbuhkan semangat kebajikan di tengah masyarakat,” katanya.
Ia mengungkapkan, Pemko Pematangsiantar senantiasa mendukung kegiatan keagamaan yang membawa pesan damai, toleransi, dan kebersamaan.
“Kita patut bersyukur karena Kota Siantar terus dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai keberagaman dan hidup rukun antar umat beragama. Saya mengucapkan selamat memperingati Hari Trisuci Waisak 2570 BE Tahun 2026 kepada seluruh umat Buddha. Semoga melalui perayaan ini, kita semua memperoleh kedamaian batin, kebijaksanaan, dan semangat untuk terus menebarkan cinta kasih kepada sesama,” tuturnya.
Ketua DPD Walubi Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Brillian Moktar menyampaikan, kegiatan tersebut berjalan dengan baik.
“Tadi ketua panitia sudah banyak menyampaikan tentang Waisak dan Pradaksina, bahwa agama Buddha ini pada intinya adalah kesadaran. Pradaksina ini ada hubungan dengan kesadaran, kita melangkah, kita renungkan,“ ungkapnya.
Umat Buddha itu, katanya, bukan hanya di Pematangsiantar, bahkan di dunia, adalah makhluk yang paling sabar.
“Jadi kalau dicubit, jangan dibalas. Tadi juga diceritakan tentang Waisak, ada tiga peristiwa penting dan ini sudah diperingati, telah 2570 tahun dan waktu yang berkesinambungan, begitu lama. peristiwa ini sangat luar biasa. Tangan satu di atas, dan satu tangan di bawah. Artinya, saya lahir yang terakhir kali,” ujarnya.
Menjelaskan, setiap orang yang beragama Buddha atau siapapun yang belajar tentang agama Buddha, harus bisa mengentaskan kependeritaannya.
“Pesan saya, melalui Waisak tahun 2570 ini, Pak Wesly dan semua majelis, Walubi dan Permabudhhi, serta umat Buddha harus bersabar sesuai tema kementerian, Dharma menjaga Perdamaian Dunia. Maka kita harus meningkat lagi, nomor 1 di Indonesia untuk kerukunan umat beragama di Siantar,” pintanya.
Tak lupa mengingatkan kembali, sesuai pesan Ketua DPD Walubi Pematangsiantar-Simalungun Susanto, langkah demi langkah dijaga, dan suara dijaga.
Sementara itu, Ketua DPD Walubi Pematangsiantar-Simalungun Susanto (Aleng) menyampaikan syukur karena dapat berkumpul dalam suasana penuh bahagia guna memeringati Hari Trisuci Waisak.
“Atas nama perwakilan umat Buddha Indonesia atau Walubi, saya menyampaikan ucapan selamat hari raya Waisak kepada seluruh umat Buddha. Semoga momentum suci ini membawa kedamaian, kebijaksanaan, dan cinta kasih bagi kita semua,” ucapnya.
Ketua DPD Walubi juga menjelaskan Waisak mengingatkan pada tiga hal agung dalam kehidupan Siddharta Gautama, yaitu kelahiran pangeran Siddharta, pencapaian penerangan sempurna, dan Parinibbana (wafat).
“Di mana Sang Buddha saat peristiwa suci ini bukan sekadar peringatan historis, tetapi menjadi sumber inspirasi bagi kita untuk terus menapaki jalan damai dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah tantangan kehidupan modern, perbedaan, perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta dinamika kehidupan berbangsa, ajaran Buddha mengingatkan kita untuk senantiasa mengembangkan mental atau cinta kasih karunia, welas asih, simpati atas kebahagiaan orang lain, serta Upekkha (keseimbangan batin),” katanya.
Nilai-nilai inilah, sambungnya, yang akan memerkuat persatuan, memerkokoh kerukunan, dan menjadi momentum untuk memperdalam praktek dharma, memerkuat sila, mengembangkan samadhi, dan menumbuhan paramita dalam kehidupan nyata. Melalui perbuatan baik, pelayanan sosial, kepedulian terhadap sesama, serta penghormatan terhadap semua makhluk diwujudkan Buddha Dharma menjadi nyata.
Saya mengajak seluruh umat Buddha, khususnya generasi muda Buddhis untuk terus menjaga persatuan, aktif dalam pelayanan, serta menjadi teladan dalam membangun masyarakat yang damai, toleransi, dan bermartabat. Semoga berkat Waisak membawa kedamaian bagi Indonesia dan seluruh dunia. Semoga semua makhluk hidup berbahagia, tandasnya.
Ketua Panitia Dr Erbin Chandra SE MM dalam laporannya mengatakan, l Pradaksina memiliki makna yang sangat sakral.
“Tujuan kita bukan pawai, bukan heboh-hebohan, bukan euforia saja, tapi sebenarnya ini momen bagi kita untuk merefleksikan apa yang sudah kita perbuat selama satu tahun terakhir,” katanya.
Erbin mengatakan, Waisak momentum untuk mengintrospeksi, baik dari pikiran, perbuatan, dan ucapan agar mempunyai komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik setelah melaksanakan Pradaksina.
“Kami dari panitia, khususnya DPD Walubi Kota Pematangsiantar mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya tentunya kepada Bapak Wali Kota Wesly Silalahi, dukungan yang sangat luar biasa. Setiap kegiatan dari Walubi, kemarin juga waktu Cap Go Meh Bapak hadir membersamai kita,” katanya.
Karena hasil dari Setara Institute, kita berada di posisi ke-4 sebagai Kota Paling Toleransi di Indonesia. Berani menunjukkan komitmen kita bersama, kepedulian kita bersama, untuk membangun kota tercinta, lanjutnya.
Masih kata Erbin, saat ritual Pradaksina, peserta membawa lilin elektrik, mengikuti perkembangan zaman.
Jadi lilin ini melambangkan kebajikan yang harus selalu kita lakukan, seperti lilin yang mengorbankan dirinya untuk memberikan penerangan bagi siapapun tanpa mempedulikan perbedaan etnis, suku, ras, dan gender, bahkan semua makhluk, imbuhnya.
(S.Sitorus)




































