JOMBANG –Liputanberita62.com. Guratan lelah tidak mampu menyembunyikan binar kepuasan di wajah Muhammad Nafi’ Udin. Tepat pukul 20.30 WIB, kader Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kecamatan Babat, Lamongan ini tiba di pelataran Gedung F, Universitas KH. Wahab Hasbullah (UNWAHA), Jl. Garuda No.14, Tambak Rejo, Jombang – lokasi digelarnya Muktamar Kebudayaan Lesbumi. Ia datang bukan dengan kendaraan bermotor, melainkan dengan mengayuh sepeda ontel tuanya.
Jarak sekitar 120 kilometer ia tempuh membelah pekatnya arus lalu lintas jalur antarkota. Pria asal Desa Gilang ini memulai perjalanannya saat senja mulai turun, sekitar pukul 17.00 WIB. Pilihan waktu yang tidak biasa untuk sebuah perjalanan antarkota menggunakan sepeda kayuh.
“Ikut muktamar, Pak. Mohon maaf agak malam,” ujar Nafi’ Udin saat menyapa panitia setempat dengan bersahaja. Pakaiannya berdebu, namun semangatnya tetap utuh.
Keputusan Nafi’ Udin berangkat pada sore hari sempat memicu rasa heran sekaligus kagum dari para peserta muktamar. Di saat mayoritas orang memilih beristirahat selepas kerja, ia justru memilih menghadapi risiko perjalanan malam demi menghadiri forum kebudayaan tersebut.
Saat dikonfirmasi mengenai pemilihan waktu keberangkatannya, Nafi’ Udin memberikan jawaban yang reflektif.
“Saya baru selesai bekerja pukul 16.00 WIB. Setelah ganti baju dan bersiap, saya langsung berangkat pukul 17.00 WIB. Bagi saya, tidak ada waktu yang salah untuk mencintai dan memperjuangkan kebudayaan, bahkan di malam hari sekalipun,” tuturnya.

Pernyataan tersebut seketika membawa keheningan di ruang muktamar. Kehadiran Nafi’ Udin dinilai bukan sekadar sebagai peserta, melainkan simbol dari esensi kebudayaan itu sendiri—sebuah dedikasi yang tulus dan tanpa pamrih.
“Dari Lamongan ke Jombang naik sepeda ontel, berangkat jam 5 sore, sampai jam setengah 9 malam, dan dia masih bisa tersenyum. Ini bukan lagi sekadar peserta, ini adalah peristiwa budaya itu sendiri,” ungkap seorang sesepuh Lesbumi yang hadir dalam forum tersebut dengan nada bergetar.
Suasana haru berubah menjadi penuh kehangatan saat Nafi’ Udin memasuki area utama gedung F Universitas KH. Wahab Hasbullah. Di lokasi acara, ia berkesempatan bertemu langsung dengan sesepuh Jogo Wengi. Pertemuan itu berlangsung dalam keheningan yang berat makna. Jogo Wengi, yang namanya berarti “penjaga malam”, terdiam lama begitu melihat Nafi’ Udin berdiri di depannya dengan sepeda ontel yang masih setia di samping. Tanpa suara, mata tuanya berkaca-kaca. Ia meraih tangan Nafi’ Udin, lalu membisikkan sesuatu yang hanya mereka berdua yang tahu.
“Ini Lesbumi sejati,” kata Jogo Wengi kemudian dengan suara parau di hadapan para peserta yang mulai mengerumuni. “Bukan yang bicara di atas podium. Tapi yang mengayuh ontel di malam hari.”

Tidak hanya itu, kehadiran Nafi’ Udin segera disambut riuh oleh rombongan saudara-saudara satu daerah dari Babat dan Lamongan yang telah tiba lebih dulu. Mereka berkumpul, melepas rindu, dan memberikan apresiasi tinggi atas perjuangan fisik yang baru saja ditempuh. Di tengah lingkaran persaudaraan tersebut, rasa lelah akibat mengayuh ratusan kilometer seolah luruh berganti hangatnya kebersamaan. Perjalanan panjang beralaskan roda dua itu pun terbayar lunas oleh tegur sapa dan pelukan hangat sesama pejuang kebudayaan.
Muktamar yang berlangsung pada Sabtu, 13 Juni 2026 itu sendiri menghadirkan serangkaian komisi strategis – mulai dari geopolitik, ekologi, hingga tantangan teknologi – serta ditutup dengan Pentas Kolaborasi Lesbumi Nusantara pada malam harinya. Namun bagi sebagian peserta yang menyaksikan langsung kedatangan Nafi’ Udin, momen paling membekas bukanlah diskusi di ruang rapat, melainkan sebuah sepeda ontel yang tertambat di halaman Gedung F – bukti sunyi bahwa cinta pada kebudayaan tak kenal lelah, tak kenal malam, dan tak kenal kata “terlambat”.
Tim – sunariyanto




































