“Akhir Tragis Sang Konglomerat Manado dengan eksekusi pancung ” (LIE TJENG LOK)

Liputanberita62.com – MANADO. 14 Februari 1942. Dalam suasana muram mengiringi pendudukan Jepang atas Hindia Belanda, Manado kehilangan salah satu putra terbaiknya.

Hanya sebulan setelah jatuhnya pemerintahan kolonial tepatnya pada 13 Februari 1942, seorang dermawan dan pengusaha sukses bernama Lie Tjeng Lok bersama dua putranya, Lie Goan Oan dan Lie Tek Djien, digiring ke Gunung Wenang, lalu dieksekusi mati oleh pemerintahan militer Jepang.

Lie Tjeng Lok bukanlah nama asing di Manado. Ia memulai kerajaan usahanya dari kios kecil di kawasan Kampung Cina, menjual tembakau, beras, pakaian bekas, kue, dan layanan jahit. Seiring waktu, usahanya berkembang pesat: ia membeli tanah, membangun wisma dan rumah kontrakan, termasuk sebuah gedung megah yang dikenal dengan nama Wisma Eldorado di Sario-Tumpaan, disebut-sebut sebagai bangunan termegah di Manado pada masanya.

Puncak kejayaannya datang ketika ia mendirikan perusahaan swasta Tionghoa pertama di kota ini: NV Handel Maatschappij Lie Boen Yat & Co. pada 24 Maret 1919, serta kemudian mengambil alih NV Celebes Molukken Cultuur Maatschappij pada 20 Agustus 1929. Ia juga mendirikan NV Bouw Maatschappij Noord Celebes bersama anaknya pada akhir 1930-an.

Bisnisnya meliputi perdagangan lokal, ekspor komoditas seperti kopra dari Sulawesi ke Amerika dan Eropa, serta impor obat-obatan, parfum, dan minuman ke wilayah Manado dan Maluku.

Kedudukan dan reputasinya menjulang: bukan hanya sebagai pengusaha besar, tetapi juga sebagai salah satu tokoh masyarakat terkemuka di Manado, mewakili komunitas Tionghoa lokal yang mapan.

Segalanya berubah saat fajar 1942. Ketika tentara Jepang menggantikan kekuasaan Belanda, tekanan militer dan kebijakan keras mulai menjerat para pemilik modal.

Lie Tjeng Lok, bersama kedua putranya, ditangkap atas tuduhan bahwa mereka “membiayai perjuangan” di Tiongkok, membantu kekuatan anti-Jepang di bawah pimpinan Chiang Kai-shek.

Tuduhan tersebut dianggap oleh banyak pihak sebagai dalih belaka, sebagian dipercaya lahir dari dendam lokal: konon salah satu otoritas Jepang di Manado pernah merasa ditolak oleh Lie ketika hendak menyewa Wisma Eldorado untuk dijadikan kantor.

Tak lama setelah penangkapan, seluruh kekayaan keluarga Lie dinyatakan disita dan dikuasai oleh rezim pendudukan.

Dari aset berharga hingga lahan, semuanya lenyap, menandakan kehancuran bukan hanya atas tubuh, tetapi juga atas warisan nyata yang telah dibangun dengan kerja keras puluhan tahun.

13 Februari 1942 menjadi tanggal kelabu bagi kota Manado. Di Gunung Wenang, Lie Tjeng Lok (71 tahun) serta putra-putranya, Lie Goan Oan dan Lie Tek Djien, bersama empat terdakwa lainnya dieksekusi mati secara kejam dengan dipancung.

Dalam kesedihan yang mendalam, jenazah mereka dikubur secara sederhana, hanya dengan nama dan tanggal lahir terpahat pada batu nisan seadanya. Baru pada 1946, pasca perang, kuburan itu dibongkar dan jenazah dipindahkan ke taman makam pahlawan di Menteng Pulo, Jakarta.

Sebelum dijatuhi hukuman mati, dikisahkan bahwa Lie tua berdiri dengan gagah di antara jeruji menatap putra-putranya, yang meski termuda namun menunjukkan ketenangan luar biasa. “Air mata tidak bisa ia tahan,” tulis sejarawan, “tapi terpancar kebanggaan dan kesedihan sekaligus.”

Kematian tragis itu tak hanya memupus nyawa sang tokoh, tetapi memecah warisan besar yang pernah dimilikinya.

Setelah kemerdekaan, aset dan tanah peninggalan Lie Tjeng Lok menjadi sumber sengketa berkepanjangan antar ahli waris hingga lawan klaim yang dianggap opportunis.

Hingga hari ini, masih banyak kejanggalan dalam administrasi warisan membuat nama dan warisannya tenggelam pelan dalam pusaran konflik hukum dan sejarah.

Kisah Lie Tjeng Lok bukan sekadar catatan perdagangan dan kekayaan. Ia adalah gambaran tragis bagaimana kedudukan sosial dan bisnis bisa luluh lantak oleh kekuasaan militer. Dari kios sederhana ke puncak konglomerasi; dari puncak kejayaan ke eksekusi kejam di malam kelabu 13 Februari 1942.

Hari ini, ketika banyak pihak menuntut kejelasan atas warisan dan keadilan bagi ahli waris, kita diingatkan pada nama yang pernah berjaya dan akhir yang tak beradab.

Lie Tjeng Lok harus diingat bukan hanya sebagai pengusaha, tapi sebagai korban sejarah, sekaligus cermin betapa rapuhnya kemapanan di tengah pergolakan politik dan perang.

Sumber utama:

“Lie Tjeng Lok, Kisah Konglomerat Manado yang Berakhir Tragis”, Barta1com.

“Akhir Tragis Lie Tjeng Lok, Konglomerat Tempo Doeloe”, blog Adrianus Kojongian.

“Perjuangan Ahli Waris Pulihkan Sejarah Tanah Lie Tjeng Lok”, SIAGAINDONESIAID (2025). (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *