Darurat Kesehatan Disorot, Desak Perbaikan Layanan RS dan Optimalisasi BPJS di Lebak

Lebak, LiputanBerita62.com — Sorotan tajam terhadap layanan kesehatan di Kabupaten Lebak kembali mencuat. Anggota DPRD Lebak Komisi III, , menilai penanganan pasien darurat di sejumlah fasilitas kesehatan masih dihadapkan pada berbagai kendala teknis yang berpotensi mengancam keselamatan pasien.

Pernyataan tersebut disampaikan Regen saat diwawancarai di lingkungan DPRD Lebak, Rabu (22/4/2026). Ia mengungkapkan adanya laporan masyarakat terkait pasien yang telah dibawa ke rumah sakit, namun tidak segera mendapatkan tindakan medis optimal dengan alasan keterbatasan alat kesehatan.

“Warga datang dalam kondisi darurat, sudah dibawa ke rumah sakit. Seharusnya pasien ditangani terlebih dahulu, bukan langsung terkendala alasan teknis seperti tidak tersedia benang jahit atau perlengkapan lainnya,” tegasnya.

Menurutnya, dalam situasi darurat, keselamatan pasien harus menjadi prioritas utama dan tidak boleh tertunda oleh persoalan administratif maupun teknis di lapangan.

Regen juga menyoroti sistem rujukan pasien yang dinilai belum berjalan optimal. Ia menyebut, keterlambatan dalam proses rujukan kerap memperburuk kondisi pasien, bahkan berujung pada hilangnya nyawa.

“Yang terpenting adalah keselamatan pasien. Koordinasi antar rumah sakit harus diperkuat. Jangan sampai keterlambatan penanganan terjadi hanya karena alasan teknis,” ujarnya.

Ia menambahkan, meskipun tidak semua fasilitas kesehatan merupakan rumah sakit rujukan utama, masih terdapat alternatif layanan lain yang dapat dimanfaatkan, termasuk rumah sakit swasta maupun mitra pelayanan kesehatan.

“Masih ada pilihan seperti Rumah Sakit Misi Lebak atau Rumah Sakit Kartini Rangkasbitung. Jangan sampai keterbatasan alat menjadi alasan hingga mengorbankan keselamatan pasien,” imbuhnya.

Lebih jauh, Regen menekankan pentingnya optimalisasi anggaran kesehatan, termasuk melalui skema , agar benar-benar mampu meningkatkan kualitas pelayanan di rumah sakit.

“Anggaran kesehatan harus dimaksimalkan. Ini adalah penopang utama layanan kesehatan, sehingga manfaatnya harus dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.

Ia juga menyampaikan keprihatinan atas adanya kasus pasien ibu hamil yang akan menjalani operasi sesar, namun dalam proses rujukan bayi dalam kandungan meninggal dunia di perjalanan. Peristiwa tersebut dinilai sebagai alarm serius bagi sistem pelayanan kesehatan di daerah.

“BPJS harus benar-benar menjamin pelayanan yang cepat dan tepat. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali,” tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Regen menegaskan bahwa kritik yang disampaikan merupakan bentuk kepedulian terhadap peningkatan mutu pelayanan kesehatan, khususnya di RSUD Adjidarmo.

“Saya bukan untuk mengkritik semata, tetapi ini demi perbaikan agar pelayanan kesehatan bisa semakin optimal dan benar-benar berpihak kepada masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *