SORONG- Liputanberita62.com. Yayasan Papua Lestari mengelar pelatihan Kader Tangguh AIDS, Tuberculosis dan Malaria (ATM) di Papua Barat Daya bertempat The Belagri Hotel Airport Kota Sorong Papua Barat Daya, Selasa 6-8 Oktober 2026. Bertajuk” satu langkah peduli sejuta Arti deteksi dini melindungi negeri”.
Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu, diwakili oleh Wakil Gubernur Papua Barat Daya Ahmad Nausrau, menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Yayasan Papua Lestari (YAPARI) atas kepedulian serta kontribusi aktifnya dalam mendukung program kesehatan masyarakat wilayah provinsi Papua Barat Daya.
Dukungan ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Pelatihan Relawan Tangguh ATM (AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria) dengan sasaran membentuk kader-kader kesehatan yang memiliki pemahaman serta keterampilan memadai dalam melakukan edukasi dan penanganan di tengah masyarakat.
Wakil gubernur Papua Barat Daya Dalam sambutan pembukaan pelatihan menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menekan angka penyebaran penyakit menular.
Penyakit seperti AIDS, TBC, dan Malaria tidak hanya berkaitan dengan daya tahan tubuh manusia, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh perilaku dan pola hidup masyarakat. Oleh karena itu, langkah edukasi serta peningkatan kesadaran hidup sehat menjadi syarat mutlak yang harus ditanamkan secara berkelanjutan agar masyarakat terhindar dari ancaman penyakit tersebut,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tantangan penanganan TBC dan Malaria yang masih menjadi perhatian nasional maupun regional. Berdasarkan data evaluasi kesehatan, Indonesia secara umum terus berupaya mengentaskan kasus TBC.
Sementara untuk penanganan malaria di wilayah Papua Barat Daya, beberapa daerah seperti Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Maybrat telah berhasil mencapai status eliminasi malaria dan meraih penghargaan.
“Keberhasilan dua kabupaten tersebut menjadi bukti nyata bahwa eliminasi penyakit dapat diwujudkan melalui pola hidup sehat dan penanganan yang konsisten, sekaligus menjadi motivasi bagi daerah lain seperti Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Raja Ampat, dan Tambrauw,” katanya.
Lebih lanjut katanya, Selain TBC dan Malaria, penanggulangan HIV juga menjadi fokus utama karena dampaknya yang kompleks. Penanganan HIV tidak hanya berfokus pada sektor kesehatan semata, tetapi juga melibatkan dimensi sosial, ekonomi, keluarga, pendidikan, lingkungan, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Dalam mengatasi persoalan ini, para kader diharapkan tidak bekerja sendiri, melainkan membangun sinergi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, TP-PKK, kader Posyandu, serta kelompok pemuda di wilayah masing-masing satu kota Lima kabupaten.
“Melalui pelatihan ini, para kader relawan dibekali pengetahuan komprehensif mengenai prosedur penanganan dan edukasi kesehatan yang aman. Bekal ilmu tersebut sangat krusial agar para kader dapat memberikan arahan secara tepat tanpa merugikan diri sendiri maupun masyarakat yang dibantu,” jelasnya Ahmad.
Ia menegaskan, Para relawan dituntut untuk bekerja dengan pendekatan empati, menjaga kerahasiaan informasi pasien, serta menghindari stigma dan perlakuan diskriminatif terhadap penderita.
Kesempatan tersebut Wakil gubernur menyampaikan bahwa, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya komitmennya untuk terus mendukung penguatan layanan kesehatan serta kemitraan bersama lembaga swadaya masyarakat.
Ia mengatakan, Meskipun dihadapkan pada tantangan efisiensi anggaran dan keterbatasan fiskal di provinsi baru, pemerintah daerah tetap memprioritaskan sektor kesehatan sebagai fondasi utama pembangunan.
“Kualitas hidup dan kesehatan masyarakat merupakan modal dasar yang tidak dapat ditawar agar seluruh program pembangunan daerah dapat berjalan secara optimal,” katanya.
Gandeng Pemangku Kepentingan, Yayasan Papua Lestari Gelar Pelatihan Penanggulangan HIV, Tuberkulosis, dan Malaria
Penanganan dan penuntasan penularan penyakit menular seperti HIV, Tuberkulosis (TBC), dan Malaria membutuhkan sinergi serta kolaborasi dari berbagai pihak.
Menyadari hal tersebut, Yayasan Papua Lestari menggelar pelatihan khusus yang melibatkan puluhan pemangku kepentingan untuk menekan angka kasus tiga penyakit tersebut di Tanah Papua.

Koordinator SSR / program dari Yayasan Papua Lestari (YAPARI) Hilal Achmad, kepada wartawan disaat wawancara menjelaskan bahwa penanganan tiga masalah kesehatan besar ini tidak dapat dilakukan secara mandiri oleh satu pihak saja. Oleh karena itu, pihaknya merangkul berbagai elemen masyarakat untuk bergerak bersama.
“Kegiatan pelatihan ini melibatkan sekitar 30 peserta yang terdiri dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pemudi, hingga kalangan mahasiswa,” Ujarnya.
Ia menyebut, Para peserta dibekali berbagai materi mendasar mengenai HIV, Tuberkulosis, dan Malaria, serta peningkatan kapasitas keterampilan seperti komunikasi efektif, teknik memfasilitasi, dan strategi advokasi guna mempersiapkan mereka saat turun langsung ke lapangan.
Kata dia, Pelatihan yang diselenggarakan ini merupakan langkah awal dan bentuk persiapan matang menuju pelaksanaan program tahun depan. Meski dirancang untuk tingkat provinsi, keterbatasan anggaran membuat kegiatan perdana di Tanah Papua ini difokuskan terlebih dahulu dengan mengundang perwakilan dari dua wilayah, yakni Kota Sorong dan Kabupaten Sorong.
Kata Hilal, Yayasan Papua Lestari sendiri berkiprah di empat provinsi di wilayah Papua, termasuk Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua Tengah.
Ia menyebut, Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan dapat mengambil peran aktif dan bekerja sama menurunkan angka kasus HIV, TBC, dan Malaria.
“Aksi nyata para peserta diharapkan bisa segera dimulai seusai pelatihan, bergerak secara bertahap mulai dari lingkungan keluarga, organisasi tempat mereka bernaung, hingga menjangkau masyarakat luas,” Tegasnya Achmad.
Penulis Eskop Wisabla.



















