Harga diri insan pers jadi taruhan, Achmad Khotib dan Ruswa Ilahi, meledak dengan kecaman keras dan mendesak aparat segera menyeret oknum pendemo penghina wartawan ke meja hukum.
PANDEGLANG – LiputanBerita62.com Ucapan arogan seorang oknum pendemo di Gedung DPRD Kabupaten Pandeglang yang menyebut “percuma audiensi sama wartawan, gak ada fungsinya” pada Selasa (2/9/2025) memicu gelombang kemarahan insan pers.
Achmad Khotib, Kaperwil Banten Tabloid Pilar Post, dengan nada lantang menegaskan bahwa pernyataan tersebut adalah penghinaan terhadap profesi wartawan sekaligus pelecehan terhadap pilar keempat demokrasi.
“Saya mengecam keras perkataan oknum pendemo itu! Wartawan bukan sampah yang bisa diremehkan. Mereka adalah pejuang informasi yang bekerja tanpa kenal waktu demi masyarakat. Ucapan seperti itu adalah bentuk kebodohan publik, pelecehan profesi, dan penghinaan terhadap Undang-Undang Pers!” tegas Achmad Khotib penuh emosi.
Lebih jauh, Achmad Khotib mendesak agar oknum pendemo segera diproses hukum.
“Undang-Undang Pers jelas melindungi wartawan. Jangan biarkan mulut kotor seenaknya menghina profesi mulia. Saya dorong rekan-rekan wartawan, tempuh jalur hukum! Jangan biarkan harga diri insan pers diinjak-injak ucapan murahan,” tambahnya keras.
Menurutnya, pendemo boleh menyuarakan aspirasi, namun tidak dengan cara merendahkan profesi lain.
“Aksi demonstrasi itu untuk memperkuat demokrasi, bukan menebar arogansi. Pendemo boleh lantang bersuara, tapi jangan sekali-sekali merendahkan wartawan. Itu sudah keterlaluan! Harga diri insan pers adalah marwah bangsa, dan tidak boleh diinjak oleh siapa pun,” tutup Achmad Khotib dengan nada berapi-api.
Sementara itu, Ketua Badak Banten Cileles, Ruswa Ilahi, ikut mengeluarkan pernyataan keras. Ia menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi aktivis atau siapa pun yang berani melecehkan profesi wartawan.
“Aktivis macam itu jangan sok bicara atas nama rakyat kalau hanya bisa melecehkan wartawan. Ingat, wartawan adalah salah satu tiang demokrasi. Menghina wartawan sama saja menusuk jantung kebebasan pers. Kami Badak Banten Cileles berdiri tegas: jangan pernah coba-coba merendahkan insan pers, kalau tidak siap berhadapan dengan kami!” tegas Ruswa Ilahi, penuh nada menghantam.
Ruswa Ilahi juga mendorong insan pers untuk segera mengambil langkah hukum agar kasus ini tidak dianggap sepele.
“Saya serukan kepada seluruh wartawan, jangan diam! Segera laporkan oknum itu ke pihak kepolisian. Jangan biarkan penghinaan ini berlalu begitu saja. Kita harus ajarkan bahwa profesi pers punya martabat dan dilindungi undang-undang. Ini soal harga diri, dan kita tidak akan mundur selangkah pun,” tandas Ruswa Ilahi dengan garang.
Solidaritas Nasional Insan Pers
Kecaman keras dari Achmad Khotib dan Ruswa Ilahi ini menjadi simbol bahwa wartawan se-Indonesia tidak akan tinggal diam. Insan pers dari Sabang sampai Merauke dipanggil untuk bersatu menjaga marwah profesi.
“Hari ini wartawan Banten bersuara, besok seluruh Indonesia akan bergema. Jangan sekali-sekali meremehkan pers, karena pers adalah benteng terakhir demokrasi. Siapa pun yang menginjak marwah wartawan, akan berhadapan dengan kekuatan pers se-Nusantara,” demikian seruan solidaritas insan pers.





























