BANTEN – LiputanBerita62.com Forum Warga Bersatu Banten (Forwatu) menyampaikan duka cita mendalam atas tragedi memilukan yang menewaskan seorang pengemudi ojek online (Ojol) akibat terlindas kendaraan taktis Brimob saat aksi demonstrasi di Jakarta, 28 Agustus 2025.
Dalam pernyataan resminya, Forwatu Banten menyampaikan ucapan belasungkawa:
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kami segenap keluarga besar Forwatu Banten turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga almarhum husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan oleh Allah SWT,” tulis pernyataan resmi Forwatu.
Presidium Forwatu Banten, Arwan, S.Pd., M.Si., M.Ap, mengecam keras tindakan biadab tersebut. Menurutnya, apa yang dilakukan oknum Brimob itu adalah bentuk nyata dari kebrutalan aparat yang semakin jauh dari tugas utamanya sebagai pelindung rakyat.
“Nyawa rakyat diinjak-injak tanpa rasa kemanusiaan. Perbuatan ini bukan sekadar kesalahan, tapi kejahatan yang menodai institusi negara,” tegas Arwan dengan nada geram.
Arwan menegaskan, rekaman video yang beredar di publik sudah cukup menjadi bukti bahwa korban dilindas secara brutal. Ia menilai, jika negara tidak segera bersikap tegas, maka kepercayaan rakyat terhadap aparat penegak hukum akan hancur total.
“Rekaman itu jelas. Tidak ada alasan, tidak ada pembenaran. Itu tindakan barbar, memalukan, dan tidak bisa ditoleransi. Kalau negara masih diam, berarti negara sedang mati rasa terhadap penderitaan rakyat,” ujarnya dengan lantang.
Sekretaris Forwatu Banten, Aris Riswanto, juga menyampaikan komentar keras dan penuh emosi. Ia menilai tragedi ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan luka mendalam bagi hati rakyat kecil.
“Hati kami hancur melihat rakyat kecil diperlakukan seperti binatang. Ini bukan lagi sekadar pelanggaran prosedur, ini penghinaan terhadap kemanusiaan. Jangan pernah anggap rakyat bisa diam. Luka batin ini akan terus membekas, dan kami tidak akan berhenti menuntut keadilan,” tegas Aris dengan suara bergetar.
Aris juga menyoroti dampak besar peristiwa ini terhadap kepercayaan masyarakat.
“Kalau aparat terus bertindak brutal seperti ini, maka krisis kepercayaan akan semakin parah. Rakyat akan kehilangan harapan kepada negara. Ingat, darah rakyat tidak bisa dibeli, dan air mata keluarga korban tidak bisa dihapus dengan sekadar permintaan maaf,” ujarnya lantang.
Lebih jauh, Arwan menuding peristiwa ini sebagai tamparan keras bagi Polri dan pemerintah. Ia mengingatkan bahwa rakyat tidak akan pernah lupa dan akan terus menuntut keadilan.
“Jangan coba-coba mengaburkan fakta. Jangan sekali-kali menganggap nyawa rakyat bisa ditebus dengan kata maaf. Kami akan terus bersuara, karena darah rakyat kecil yang tumpah adalah aib bangsa ini,” pungkasnya tajam.



































