Forwatu Banten Bentuk Tim Khusus Awasi Program MBG, Ingatkan Pemerintah Jangan Main-main dengan Keselamatan Siswa

LiputanBerita62.com Lebak – Forum Warga Bersatu Banten (Forwatu Banten) menggelar rapat khusus pembentukan Tim Khusus Pengawasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Banten, Minggu (28/09/2025).

Dalam forum tersebut, hadir tim ahli gizi dan kesehatan lingkungan dari Puskesmas Warunggunung yang memberikan paparan mengenai standar kesehatan makanan.

Presidium Forwatu Banten, Arwan, menegaskan bahwa tim ini dibentuk sebagai langkah tegas untuk meminimalisasi potensi terjadinya makanan tidak layak konsumsi dalam program MBG.

“Kita tidak ingin peristiwa keracunan massal siswa seperti di Jawa Barat kembali terjadi. Banten tidak boleh kecolongan. Keselamatan anak-anak harus menjadi prioritas,” tegas Arwan.

Dalam rapat itu, Forwatu Banten menunjuk Wakil Ketua II Bidang Advokasi Masyarakat, Eroy Bavik Habibi, sebagai Koordinator Tim Khusus Pengawasan MBG.

Eroy menegaskan siap menindaklanjuti amanah tersebut dengan aksi nyata.

“Saya segera menyusun tim untuk melakukan kontrol langsung ke sekolah-sekolah dan dapur gizi. Tidak boleh ada kompromi soal standar kesehatan. Kalau ditemukan penyimpangan, akan kami laporkan segera,” ujar Eroy.

Lebih jauh, Eroy memastikan pihaknya juga akan melakukan riset, investigasi, hingga pelaporan hasil temuan agar penyedia MBG tidak bermain-main dengan kewajibannya.

“Program ini menyangkut kesehatan generasi penerus bangsa. Jangan sampai ada pihak yang mencari keuntungan dengan mengorbankan keselamatan anak-anak. Kami akan kawal ketat,” tutupnya.

Sorotan Tajam Media

Langkah Forwatu Banten ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah dan penyedia MBG. Program yang seharusnya menjadi solusi pemenuhan gizi siswa jangan sampai berubah menjadi ancaman kesehatan. Apalagi, aroma dugaan lemahnya pengawasan pemerintah terhadap pelaksana di lapangan mulai tercium.

Publik kini menunggu bukti nyata, apakah pemerintah daerah serius memastikan MBG berjalan sesuai aturan, atau justru membiarkan anak-anak sekolah dijadikan korban percobaan atas makanan murah tanpa standar kesehatan.

—Achmad Khotib Kaperwil Banten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *