Kamis Petang Sulut Kembali Diguncang 50 Kali Gempa Susulan///

Berita, Manado, Nasional189 Dilihat

Liputanberita62.com MANADO – Sulawesi Utara kembali diguncang gempa susulan dalam waktu singkat. Menjelang Kamis petang, 2 April 2026, sejak pukul 18:37:59 hingga 22:13:47 Wita, tercatat sekitar 50 kali gempa mengguncang laut utara Indonesia, tepatnya di antara Sulawesi Utara dan Maluku Utara, dengan kekuatan berkisar antara magnitudo 2 hingga 5,5 SR.

Gempa terkuat terjadi pukul 22:13:47 Wita (M5,5), setelah sebelumnya pukul 19:35:34 Wita tercatat M5,3.

Dalam rentang waktu itu, 32 gempa berkekuatan di atas magnitudo 3, 12 kali di atas magnitudo 2, dan 6 kali di atas magnitudo 4.

Semua ini merupakan rangkaian susulan dari gempa utama berkekuatan M7,6 yang terjadi pada pagi hari pukul 06:48:14 Wita di wilayah barat daya Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara.

Berdasarkan analisis BMKG, gempa utama M7,6 tersebut berpusat di laut pada koordinat 1,25° LU dan 126,27° BT, sekitar 129 km tenggara Bitung dengan kedalaman 33 km.

Gempa ini tergolong dangkal akibat aktivitas deformasi kerak bumi dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault). Sejak pagi hingga sore, telah terjadi ratusan gempa susulan, lalu berlanjut puluhan kali hingga malam.

Gempa M7,6 sempat berstatus potensi tsunami, namun kemudian dicabut. Di beberapa wilayah pesisir Sulawesi Utara, air laut sempat surut lalu naik ke permukiman warga dengan ketinggian bervariasi dan tertinggi sekitar 75 cm sebelum kembali normal.

Peristiwa ini memicu kepanikan warga. Meski wilayah ini dikenal sering mengalami gempa, guncangan kali ini terasa berbeda, lebih lama dari biasanya, bahkan dilaporkan berlangsung lebih dari 1 menit hingga sekitar 4 menit.

Sensasi seperti diayun dan berputar sangat terasa sekitar 15 hingga 20 detik di antara menit awal. Warga berhamburan keluar rumah, beberapa sekolah memulangkan siswa, dan air kolam di gedung tinggi tampak bergelombang seperti ombak. Sejumlah fasilitas mengalami kerusakan, termasuk rumah sakit, terminal, tempat ibadah, hingga gedung olahraga KONI di Manado yang roboh dan menelan satu krban jiw seorang lansia.

Hingga dini hari 3 April, gempa masih terasa meski data sementara BMKG di media sosial tercatat hingga pukul 22:13 Wita dan terus diperbarui melalui situs resmi. Di tengah situasi ini, masyarakat teringat peristiwa gempa dan tsunami Palu-Donggala 28 September 2018 (M7,4) yang menelan lebih dari 4.000 korban jiwa, disertai tsunami dan likuifaksi dahsyat.

Perbandingan itu menjadi pengingat sekaligus alasan untuk bersyukur, bahwa gempa M7,6 di Sulawesi Utara kali ini tidak menimbulkan dampak sebesar tragedi tersebut.

Bencana ini mengajarkan bahwa alam tidak bisa diprediksi, namun kewaspadaan bisa dipersiapkan. Kepanikan adalah manusiawi, tapi kesiapsiagaan adalah kunci.

Di balik setiap ujian, selalu ada ruang untuk bersyukur dan belajar menjadi lebih kuat. Mari tetap waspada, saling menguatkan, dan tidak lengah terhadap potensi bencana di sekitar kita.

(Mardi Golindra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *