SORONG-Liputanberita62.com Mahasiswa Papua Pegunungan kota Sorong Papua Barat Daya Resmi Sukses menggelar Musyawarah Besar Mubes ke-I berlangsung di kota Sorong Papua Barat Daya, Jumat 2-3 Oktober 2026.
Perjalanan panjang dan ikhtiar dalam menyatukan mahasiswa asal Papua Pegunungan akhirnya mencapai babak baru. Setelah melalui berbagai dinamika serta proses panjang sejak tahun 2025, Tim Formatur Mahasiswa Papua Pegunungan resmi dilaksanakan.
kegiatan Musyawarah Besar (Mubes) ke-I mengusung Tema” membangun persatuan integritas dan intelektualitas mahasiswa Papua pegunungan menuju organisasi yang progresif, mandiri, dan berkemajuan”.
Sekretaris Tim Formatur, Alex Karoba, menyampaikan bahwa pembentukan wadah ini merupakan komitmen bersama untuk merangkul dan mempersatukan seluruh mahasiswa Papua Pegunungan di tingkat provinsi, khususnya yang tersebar di delapan Korwil di Kota Studi Sorong Provinsi Papua Barat Daya.
Ia menjelaskan bahwa proses pembentukan tim formatur sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2025 Namun, dalam perjalanannya, tim sempat mengalami kefakuman selama beberapa bulan akibat kesibukan pribadi Meski sempat terhenti, semangat untuk menghadirkan wadah pemersatu tidak pernah surut.

Katanya,Pada bulan lalu, tim formatur melakukan revisi struktur kepanitiaan guna menyegarkan kembali kerja-kerja organisasi.
Langkah tersebut dilanjutkan dengan mengonsolidasikan serta mendorong delapan Koordinator Wilayah (Korwil) agar sepakat membentuk satu wadah resmi yang dapat menaungi seluruh mahasiswa Papua Pegunungan dari delapan kabupaten.
Dukungan penuh pun mengalir dari para pimpinan dan pengurus delapan Korwil tersebut. Konsolidasi intensif berhasil melahirkan kesepakatan bersama yang diperkuat melalui rekomendasi resmi secara tertulis. Hal ini menjadi landasan kokoh bagi tim formatur untuk melangkah ke tahapan puncak, yakni penyelenggaraan Musyawarah Besar (Mubes) ke-1.
Pasca pelaksanaannya, Tim Formatur berkomitmen untuk terus mengawal kepengurusan Himpunan Mahasiswa Papua Pegunungan yang nantinya terpilih. Pengawalan ini dilakukan agar jajaran pengurus baru dapat menjalankan program kerja dengan optimal serta menjaga persatuan mahasiswa dari delapan kabupaten di tingkat provinsi.
Ia menegaskan, Harapan besar juga disematkan kepada pengurus terpilih agar segera membangun sinergi dan kerja sama resmi dengan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan.
Sinergi tersebut diharapkan dapat membantu memfasilitasi berbagai kebutuhan krusial mahasiswa, seperti penyediaan asrama mahasiswa dan fasilitas penunjang lainnya, sehingga persatuan dan kesatuan mahasiswa Papua Pegunungan di kota Studi Sorong dapat terus terjalin erat di masa depan.
Sementara itu perwakilan senior Yohame dalam sambutannya menekankan bahwa ketertinggalan bukanlah alasan untuk menyerah, melainkan dorongan untuk bangkit dan terus berbenah.
Ia menegaskan bahwa setiap individu harus memiliki keyakinan dan semangat membara agar mampu melangkah lebih jauh. Ketertinggalan di masa lalu seharusnya dijadikan pemacu agar generasi saat ini dapat membuktikan kemampuan mereka dan berdiri sejajar dengan daerah-daerah lainnya.

Menurutnya Berbagai persoalan yang pernah terjadi di masa lalu harus diselesaikan bersama secara bijak agar tidak ada lagi ganjalan dalam melangkah ke depan. Refleksi ini bertujuan untuk memastikan bahwa langkah organisasi ke depan berada di jalur yang benar dan bertumpu pada fondasi yang kuat.
Inspirasi mengenai pentingnya persatuan juga diserap dari pengalaman di wilayah Manokwari, di mana para mahasiswa di sana memegang teguh prinsip “Satu Tungku dalam Satu Honai”. Prinsip kebersamaan yang kokoh tersebut dinilai perlu diserap dan diterapkan oleh seluruh mahasiswa Wamena, di mana pun mereka berada, termasuk di Kota Sorong.
Kebersamaan tersebut menjadi kunci utama dalam menghadapi berbagai tantangan serta dinamika sosial di daerah perantauan.
Lebih lanjut, ditegaskan pula bahwa seluruh mahasiswa yang berasal dari wilayah pegunungan merupakan satu kesatuan keluarga yang utuh tanpa dibeda-bedakan berdasarkan asal daerah, kabupaten, maupun kota tertentu seperti Nduga, Yalimo, Pegunungan Bintang, Lanny Jaya, Yahukimo, Jayawijaya, Tolikara, Mamberamo Tengah.
Ketika berada di luar daerah asal, stigma maupun identitas yang melekat pada mereka adalah sebagai satu kesatuan masyarakat Wamena. Oleh karena itu, sekat-sekat perbedaan wilayah harus dilenyapkan demi menjaga nama baik dan kehormatan bersama.
Kesempatan tersebut, seluruh mahasiswa diingatkan untuk tidak pernah melupakan peran penting serta jasa para orang tua dan senior. Segala bentuk perbedaan pendapat atau permasalahan yang timbul hendaknya diselesaikan melalui ruang dialog, musyawarah, dan rasa saling menghormati.
Dengan memelihara rasa hormat kepada para tetua serta menjaga ikatan persaudaraan yang erat, seluruh mahasiswa Wamena diyakini akan mampu melangkah bersama, saling merangkul, dan mencapai keberhasilan secara utuh.
Kegiatan Mubes ke-I menghadiri oleh seluruh mahasiswa Papua pegunungan di kota Studi Sorong, senior, para kepala suku, ketua delapan korwil kota Studi Sorong, serta para tamu undangan lainnya.
(Penulis Eskop Wisabla)


















