Banten LiputanBerita62.com – Dari lereng perbukitan tenang dan sakral di wilayah Baduy luar, seorang pemuda bernama Aris Riswanto menanam harapan melalui biji-biji kopi. Pria yang akrab disapa Aris ini merupakan penggagas sekaligus pemilik Kopi Cap Leuit Baduy.
Aris Riswanto, Warga Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, wilayah yang lekat dengan tradisi, alam, dan kearifan lokal. Kedekatannya dengan masyarakat Baduy luar menumbuhkan kesadaran bahwa warisan leluhur harus dijaga, namun juga bisa dikembangkan agar bermanfaat lebih luas.
Berangkat dari keprihatinan atas terbatasnya akses petani kopi warga kab Lebak khususnya baduy ke pasar yang adil, Aris memulai perjalanan panjang membangun jaringan produksi, mengembangkan brand, hingga membuka jalur distribusi yang jujur dan lestari. Karna ikon kab lebak adalah Leuit dan Baduy Dari sana lahirlah Kopi Cap Leuit Baduy.
Kopi Cap Leuit Baduy Bukan sekadar kopi, melainkan narasi hidup masyarakat adat yang selama berabad-abad menjaga keseimbangan dengan alam. Kopi ini adalah simbol perlawanan terhadap eksploitasi, sekaligus bentuk nyata dari pemberdayaan ekonomi berkelanjutan berbasis budaya.
Kopi Cap Leuit Baduy ditanam oleh tangan-tangan petani adat di berbagai wilayah kab Lebak yang menjunjung tinggi filosofi hidup “ngajaga lembur, ngajaga alam” menjaga kampung, menjaga alam. Kopi ditanam tanpa bahan kimia, tanpa mesin berat, tanpa merusak hutan. Semua dilakukan secara manual dan penuh kesabaran, mencerminkan pola hidup masyarakat Baduy yang sederhana, tenang, namun berdaya.
Varietas kopi yang ditanam merupakan jenis arabika dan robusta lokal, tumbuh alami di ketinggian 600–800 mdpl. Iklim dan tanah di berbagai wilayah kab lebak menghasilkan karakter kopi yang unik, aroma earthy yang khas, body medium, keasaman rendah, serta aftertaste ringan dengan nuansa kayu dan cokelat.
Nama “Cap Leuit” berasal dari kata leuit, yaitu lumbung padi tradisional masyarakat Adat di berbagai wilayah Lebak khususnya baduy yang menjadi simbol ketahanan pangan, keberkahan, dan kelestarian budaya. Dalam kehidupan sehari-hari, leuit bukan sekadar tempat menyimpan padi, tetapi lambang filosofi hidup menabung, bersabar, dan hidup cukup.
Melalui nama ini, Kopi Cap Leuit Baduy ingin membawa filosofi lokal itu ke dalam secangkir kopi bahwa ada nilai kesabaran, keberlanjutan, dan penghormatan terhadap alam dalam setiap tegukan.
Kopi Cap Leuit Baduy diolah secara semi washed dengan teknik tradisional oleh komunitas lokal. Proses sangrai dilakukan dalam jumlah terbatas untuk menjaga kesegaran dan kualitas rasa.
Kemasan Kopi Cap Leuit Baduy mengusung konsep etnik-minimalis, memadukan unsur budaya Baduy dengan estetika modern. Tujuannya adalah menciptakan tampilan yang otentik namun tetap elegan, mencerminkan filosofi lokal serta kualitas produk yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Kopi Cap Leuit Baduy memiliki 2 varian rasa, kopi hitam murni dan kopi yang sudah dicampur gula aren.
Kopi Cap Leuit Baduy tersedia dalam kemasan 200 gr, dan saset 6 gr. Kemasan produk menggunakan bahan daur ulang dan desain lokal dengan motif khas Baduy, sekaligus menjadi sarana edukasi budaya. Dalam setiap kemasan, pembeli dapat menemukan cerita singkat tentang asal usul kopi, filosofi Baduy, dan cara menyeduh yang dianjurkan untuk menjaga cita rasa alaminya.
Kopi Cap Leuit Baduy bukan hanya produk, ia adalah gerakan ekonomi berbasis komunitas adat. Proyek ini melibatkan langsung para petani di berbagai wilayah yg berada di kab lebak setiap tahap dari panen hingga pengemasan dan memberikan mereka akses pasar yang adil serta pendampingan usaha mikro.
Kopi Cap Leuit Baduy telah mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pegiat kopi, pelaku ekonomi kreatif, hingga pemerhati lingkungan dan budaya. Produk ini mulai merambah ke kafe-kafe lokal, pameran UMKM, hingga platform digital nasional.
Peluncuran Kopi Cap Leuit Baduy ini diharapkan dapat membuka mata pasar nasional dan internasional terhadap potensi besar kopi-kopi lokal Indonesia yang belum banyak terekspos, sekaligus menajdi jembatan anatara dunia modern dan kearifan masyarakat adat.



































