LiputanBerita62.com — Gerakan Bersama Warga Hunian Sementara (Gerbang Huntara) menyiapkan logistik hasil donasi masyarakat di Tenda Perjuangan Huntara Lebakgedong sebagai wujud solidaritas kemanusiaan bagi warga yang telah enam tahun bertahan hidup dalam kondisi darurat pascabencana.
Logistik berupa 80 paket sembako yang terdiri dari beras dan mi instan tersebut akan disalurkan pada Minggu, 25 Januari 2026, dengan lokasi penyaluran dipusatkan di Kampung Cigobang, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Seluruh bantuan dihimpun secara gotong royong dari masyarakat dan dikelola secara kolektif oleh gerakan warga.
Gerakan kemanusiaan ini melibatkan berbagai elemen lintas organisasi dan komunitas, di antaranya Forwatu Banten LSM GMBI, Aliansi Aktivis Lebakgedong, Badak Banten, Badak Banten Perjuangan, mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), relawan Sabilulungan, KSSD, mahasiswa, Uun RGPI, serta para relawan kemanusiaan yang selama ini konsisten mendampingi dan memperjuangkan hak-hak warga Huntara Lebakgedong.
Tenda Perjuangan Huntara tidak hanya menjadi tempat persiapan logistik, tetapi juga ruang konsolidasi lintas elemen dan simbol keteguhan warga dalam memperjuangkan hak atas hunian dan kehidupan yang layak. Di tempat inilah solidaritas dirawat, suara warga disatukan, dan harapan tetap dijaga di tengah ketidakpastian yang berkepanjangan.
Koordinator Tim Pergerakan Gerbang Huntara sekaligus Presidium Forum Warga Bersatu Banten (Forwatu Banten), Arwan, menegaskan bahwa gerakan ini lahir dari nurani kolektif dan keprihatinan mendalam atas kondisi warga Huntara Lebakgedong.
“Logistik yang kami siapkan di Tenda Perjuangan ini adalah amanah dari hati ke hati, dari warga untuk warga. Enam tahun tinggal di hunian sementara bukanlah pilihan, melainkan keterpaksaan yang terlalu lama dibiarkan. Di balik tenda dan bangunan darurat ini ada anak-anak yang tumbuh tanpa kepastian masa depan, ada orang tua yang menua dalam penantian panjang akan keadilan. Kehadiran LSM, aktivis, mahasiswa, dan relawan—mulai dari GMBI, Badak Banten, HMI, Sabilulungan, KSSD, hingga Uun RGPI—adalah bukti bahwa nurani publik belum mati. Tenda Perjuangan bukan simbol kelemahan, tetapi simbol keteguhan dan perlawanan sunyi agar negara segera hadir dengan solusi nyata. Kami tidak meminta kemewahan, kami hanya menuntut hak hidup yang layak dan penyelesaian yang manusiawi,” tegas Arwan.
Sementara itu, Ketua OKK DPP Badak Banten, Ki Bangkol, menyatakan dukungan penuh terhadap gerakan kemanusiaan yang dilakukan Gerbang Huntara dan seluruh elemen yang terlibat.
“Apa yang dilakukan Gerbang Huntara adalah panggilan moral. Enam tahun hidup di hunian sementara adalah fakta pahit yang tidak boleh dinormalisasi. Badak Banten berdiri bersama rakyat, bersama warga Huntara Lebakgedong. Bantuan ini memang sederhana, tetapi pesan yang dibawanya sangat kuat: rakyat tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian. Negara harus hadir dan bertanggung jawab menyelesaikan persoalan ini secara adil dan bermartabat,” ujar Ki Bangkol.
Gerbang Huntara bersama Forwatu Banten dan seluruh elemen pendukung menegaskan bahwa penyiapan dan penyaluran logistik ini merupakan bagian dari ikhtiar kolektif menjaga martabat warga terdampak, sekaligus seruan terbuka agar penyelesaian permanen atas persoalan Huntara Lebakgedong segera diwujudkan.
Tabloid Pilar Post mencatat, di tengah meredupnya perhatian publik, Tenda Perjuangan Huntara tetap berdiri sebagai saksi bahwa solidaritas lintas elemen masih hidup dan perjuangan kemanusiaan di Lebakgedong belum berakhir.



































