LiputanBerita62.com Rangkasbitung, BANTEN — Minggu, 1 Maret 2026 — Senja Ramadhan di pusat Kota Rangkasbitung tak hanya menghadirkan cahaya jingga di ufuk barat. Di momentum penuh berkah itu, insan pers yang tergabung dalam Forum Wartawan Solid (FWS) menghadirkan cahaya harapan bagi mereka yang tetap berjuang di jalanan hingga detik terakhir menjelang berbuka.
Bertempat di Jalan Multatuli No. 4, tepat pukul 17.30 WIB, para jurnalis turun langsung menyapa masyarakat. Sebanyak 50 paket ta’jil dibagikan kepada para lansia, tukang becak, pemulung, serta pekerja harian yang masih menggantungkan harapan rezeki di penghujung hari.
Suasana haru menyelimuti kegiatan sederhana namun sarat makna itu. Senyum merekah di wajah-wajah renta yang menerima bingkisan berbuka. Bagi sebagian orang mungkin hanya paket makanan ringan, namun bagi mereka, perhatian dan kepedulian menjadi hadiah paling berharga.
“Biasanya saya menunggu magrib dengan seadanya. Hari ini ada yang datang memberi perhatian. Rasanya bahagia sekali,” ucap seorang ibu lanjut usia dengan mata berkaca-kaca.
Tak jauh dari lokasi, seorang tukang becak yang masih setia mangkal hingga adzan berkumandang turut menyampaikan rasa syukurnya.
“Jam segini biasanya saya masih menunggu penumpang terakhir. Alhamdulillah dapat ta’jil. Bukan cuma makanannya, tapi kepeduliannya yang bikin hati kami hangat,” tuturnya lirih.
Achmad Khotib, Kaperwil Banten Tabloid Pilar Post yang tergabung dalam FWS DPP, menegaskan bahwa pemilihan waktu 17.30 WIB bukan tanpa makna. Momentum itu dipilih agar tepat menyentuh para pejuang jalanan yang masih bekerja menjelang berbuka.
“Kami ingin hadir di detik-detik para pejuang jalanan masih berjuang. Ini bukan sekadar berbagi ta’jil, tetapi bentuk empati nyata bahwa pers selalu bersama masyarakat. Ramadhan mengajarkan kami bahwa perjuangan jurnalis tidak hanya di ruang redaksi, tetapi juga di tengah rakyat,” tegasnya.
Kegiatan berlangsung tertib, hangat, dan jauh dari kesan seremonial. Di bawah langit senja Ramadhan, 50 paket ta’jil menjadi simbol bahwa kepedulian tidak mengenal batas profesi.
Ramadhan tahun ini, FWS kembali membuktikan satu hal penting:
pena, empati, dan aksi nyata harus berjalan beriringan dalam setiap langkah perjuangan jurnalis.






























