ERA DISRUPSI PSI: Demokrasi Adaptif ala PSI di Kontestasi Pemilu Raya 2025Oleh: Arwan (Pengurus DPD PSI Kabupaten Lebak)

LiputanBerita62.com Sebuah fakta yang tak terbantahkan bahwa sistem demokrasi di Indonesia menuju pada fase ‘menopause’ tingkat partisipasi masyarakat terhadap geliat berpolitik semakin menurun.

Beberapa indikator utamanya ialah berpolitik praktis cenderung elitis dan statis. Partai Solidaritas Indonesia menemukan irama yang mampu mengurai kejenuhan tersebut. Partai yang lahir dari bara menekankan sebuah kebaruan untuk menarik empati masyarakat agar berpartisipasi dalam membangun Bangsa dari Organisasi Politik.

Kehadiran Partai berlambang Mawar ini mengelaborasi kekakuan yang dilakukan oleh elit politik untuk membangun kekuasaan di Pertiwi. Saya menyebutnya Partai Modern dengan menampilkan Inovasi yang berterima secara luas di publik.

Partai Solidaritas Indonesia menemukan irama Adaptif, treatment ini digunakan untuk membangun empati masyarakat dengan mengetengahkan perluasan laku lampah khalayak ramai.

Demokrasi adaptif adalah sebuah konsep yang mengacu pada sistem pemerintahan yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan, serta responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Dalam konteks ini, demokrasi tidak hanya dilihat sebagai sistem politik, tetapi juga sebagai proses pembelajaran dan adaptasi yang terus-menerus.

Sejalan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, PSI menjanjikan warna baru di era Disrupsi, era dimana perubahan besar yang mengganggu dan mengubah tatanan lama menjadi sesuatu yang baru, seringkali karena inovasi teknologi atau perubahan sosial.

Tantangan Pemilu Raya PSI 2025

Seringkali sesuatu yang baru, beda dan terkesan keluar dari kebiasaan dipersepsikan sebagai sesuatu yang minor bahkan dianggap tabu.

Pilihan Istilah ‘Pemilu Raya’ (Bukan Munas atau Kongres) di PSI menjanjikan demokrasi yang sesungguhnya diamanatkan oleh konstitusi. Pilihan Istilah ini merujuk pada Pemilihan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa atau Presiden Mahasiswa secara Demokratis dan tidak elitis. Istilah ini cenderung lebih santai dan jauh dari kepentingan elitis karena dilakukan secara universal kepada para pemilih di internal partai dengan metode ‘One Man One Vote’.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengumumkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) dalam Pemilihan Raya mencapai 187.306 orang atau Kader PSI. Sejumlah DPT tersebut akan melakukan pemilihan Ketua PSI dengan cara Mem-Vote pada laman yang telah disediakan oleh Panitia Pemilu Raya.

PSI menetapkan tiga nama dalam pemilihan calon ketua umum (caketum) partai periode 2025-2030. Dukungan dari Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PSI terbanyak kepada Kaesang Pangarep.

Ketiga nama yang ditetapkan caketum PSI adalah Ronald A Sinaga (Bro Ron), Kaesang Pangarep, dan Agus Mulyono Herlambang. PSI menyatakan ketiganya memenuhi syarat maju sebagai caketum.

Meskipun komentar minor tercecer di setiap media sosial dengan tuduhan ‘Gimmick’ dan Drama, kemajuan berfikir dan berinovasi PSI patut diapresiasi sehingga langkah ini menciptakan ruang Demokrasi yang lebih lekat dengan emosi masyarakat luas.

Penyesuaian dengan kebutuhan zaman, lepas dari kekakuan dalam menjalankan roda partai akan mendorong masyarakat luas menerima kehadiran Partai dengan tangan terbuka.

Kini di Era Disrupsi, PSI telah memulai langkah strategis dalam menentukan Ketua Umum Partainya secara terbuka dan Egaliter dimana semua Kader atau Pengurus PSI yang ber-KTA punya kesempatan yang sama untuk dipilih dan memilih menjadi Pucuk Pimpinan Partai Solidaritas Indonesia.

Akhirnya, Era Disrupsi akan menjadi Era PSI untuk mengubah paradigma bahwa Partai Politik Kaku dan Elitis menjadi Partai Politik yang Riang Gembira dan lebih Demokratis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *