Cirebon |Liputanberita62.com – Julukan Kota Religius yang selama ini melekat pada Cirebon kini seakan hanya tinggal nama. Pemandangan gunungan sampah yang menumpuk di berbagai sudut kota justru memperlihatkan wajah muram yang jauh dari kesan bersih, tertib, dan beradab.
Ironisnya, kota yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Islam di tanah Jawa ini kini dipaksa berdampingan dengan aroma busuk sampah yang kian hari kian mencoreng citra daerah. Tumpukan limbah rumah tangga dan pasar seakan menjadi “hiasan” baru, menggantikan identitas religius yang dahulu membanggakan.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: di mana tanggung jawab pemerintah kota? Masyarakat menilai, ketidakmampuan dalam mengelola sampah bukan hanya soal teknis, melainkan cerminan lemahnya komitmen kepemimpinan.
Kepala Perwakilan (Kaperwil) Cirebon Liputanberita62 dengan lantang menyatakan:
“Ini jelas tamparan keras bagi pemerintah daerah. Cirebon hari ini ibarat rumah yang penuh sampah tapi tetap dipoles dengan label religius. Apa gunanya julukan kota religius kalau warganya dipaksa hidup dengan bau busuk? Pemerintah jangan hanya pandai mengumbar jargon, tapi buktikan dengan kerja nyata. Kalau tidak sanggup, lebih baik mundur dari jabatan, karena rakyat butuh pemimpin, bukan pencitraan.”
Lebih jauh, persoalan ini juga memperlihatkan adanya kegagalan dalam perencanaan tata kota dan minimnya inovasi dalam pengelolaan limbah. Kota yang seharusnya menjadi destinasi wisata religi kini berpotensi ditinggalkan wisatawan akibat wajah kotanya yang kumuh.
Jika dibiarkan, gunungan sampah ini bukan hanya menghancurkan julukan “Kota Religius”, tetapi juga menggerus kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Saatnya Cirebon melakukan introspeksi, bukan lagi menutup mata.






























