
KUALA LUMPUR _ LiputanBerita62.com – Pengalaman internasional yang sarat ilmu dan hikmah dirasakan oleh Afif Afandi, mahasiswa Pascasarjana Institut Ahmad Dahlan Probolinggo, saat mengikuti program Educational Leadership and Management Colloquium and Workshop (EDU-LEAD) Malaysia–Indonesia 2026 di Malaysia pada 20–24 Juli 2026.
Program yang mempertemukan mahasiswa, dosen, dan praktisi pendidikan dari Indonesia dan Malaysia ini menjadi ruang pembelajaran bersama mengenai kepemimpinan pendidikan, manajemen sekolah, penelitian pendidikan, serta penguatan jejaring akademik antarnegara serumpun.
“Saya sangat bangga dan senang mengikuti kegiatan ini. Banyak pengalaman berharga, ilmu baru, dan wawasan internasional yang saya peroleh selama berada di Malaysia. Program ini membuka cara pandang saya tentang kepemimpinan pendidikan, budaya akademik, dan pentingnya kolaborasi antarbangsa dalam memajukan pendidikan,” ujar Afif Afandi, Jumat (24/7/2026).
Belajar Langsung dari Institusi Pendidikan Malaysia
Selama lima hari, delegasi Indonesia mengikuti rangkaian kegiatan akademik dan kunjungan institusi di beberapa lembaga strategis Malaysia, antara lain Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) di Putrajaya, Institut Aminuddin Baki Cawangan Genting Highlands (IABCGH), Sekolah Kebangsaan Wangsa Maju R10 Kuala Lumpur, dan Universiti Malaya (UM).
Di IABCGH, peserta mengikuti Educational Leadership and Management Colloquium and Workshop bersama para pensyarah Malaysia. Berbagai isu strategis dibahas, mulai dari kepemimpinan sekolah, peningkatan mutu guru, pengelolaan lembaga pendidikan, hingga tantangan pendidikan di era digital.
Afif menilai forum tersebut memberikan kesempatan langka untuk berdialog langsung dengan para ahli pendidikan Malaysia.
“Kami tidak hanya mendengar materi, tetapi juga berdiskusi, bertanya, dan bertukar pengalaman. Dari situ saya belajar bahwa pemimpin pendidikan yang baik bukan sekadar administrator, melainkan penggerak perubahan dan pemberdaya sumber daya manusia,” tuturnya.
Terinspirasi dari Budaya Disiplin Sekolah Malaysia
Pengalaman paling membekas bagi Afif adalah saat melakukan lawatan penandaarasan ke Sekolah Kebangsaan Wangsa Maju R10. Ia melihat secara langsung budaya disiplin siswa, keteraturan administrasi sekolah, keterlibatan orang tua, serta pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh kemegahan bangunan atau fasilitas modern.
“Saya melihat bahwa kekuatan utama sekolah terletak pada budaya disiplin, keteladanan guru, manajemen yang tertata, dan kerja sama seluruh warga sekolah. Hal-hal sederhana seperti ketepatan waktu, kebersihan, dan penghargaan terhadap proses belajar ternyata memberi dampak besar terhadap mutu pendidikan,” katanya.
Memperkuat Nilai Keislaman dan Keilmuan
Selain kegiatan akademik, peserta juga memperoleh penguatan nilai spiritual melalui kunjungan ke Masjid Putra Putrajaya dan Masjid Bandar Seri Putra. Delegasi Indonesia berdialog dengan pengelola masjid dan tokoh pendidikan Islam mengenai pengembangan pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman.
Kegiatan semakin bermakna dengan diskusi bersama Dato Prof. Emeritus Dr. Riza Atiq tentang Jejak Ulama Nusantara dan STEM dalam Al-Qur’an. Diskusi tersebut memperkaya wawasan peserta mengenai integrasi ilmu pengetahuan dan nilai spiritual dalam pendidikan modern.
Afif menyebut sesi tersebut sebagai pengingat bahwa kemajuan ilmu harus berjalan seiring dengan penguatan akhlak.
“Hikmah terbesar yang saya rasakan adalah ilmu tanpa akhlak akan kehilangan arah, sedangkan akhlak tanpa ilmu akan kehilangan kekuatan. Pendidikan ideal harus mampu membentuk manusia yang cerdas sekaligus berkarakter,” ujarnya.
Menimba Ilmu Publikasi Ilmiah di Universiti Malaya
Puncak kegiatan dilaksanakan di Universiti Malaya melalui Bengkel Penulisan Artikel Ilmiah di Akademi Pengajian Islam dan Akademi Pengajian Melayu. Peserta dibimbing mengenai strategi publikasi artikel pada jurnal ilmiah internasional serta peluang kolaborasi riset antara perguruan tinggi Indonesia dan Malaysia.
Bagi Afif, pengalaman tersebut menumbuhkan motivasi untuk lebih aktif menulis dan meneliti.
“Saya menyadari bahwa mahasiswa pascasarjana tidak cukup hanya menyelesaikan kuliah, tetapi juga harus menghasilkan karya ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat dan dunia pendidikan,” ungkapnya.
Hikmah untuk Pendidikan Indonesia
Sekembalinya ke tanah air, Afif berharap pengalaman yang diperoleh selama mengikuti EDU-LEAD 2026 dapat ditransformasikan menjadi praktik nyata di lingkungan pendidikan Indonesia.
Ia merangkum beberapa hikmah penting dari kegiatan tersebut, yaitu pentingnya disiplin dalam budaya sekolah, kepemimpinan yang melayani, kolaborasi antar lembaga, penguatan karakter, dan semangat belajar sepanjang hayat.
“Kami pulang bukan hanya membawa oleh-oleh dari Malaysia, tetapi membawa ide, inspirasi, jejaring persahabatan, dan semangat baru untuk memajukan pendidikan Indonesia. Saya berharap pengalaman ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus belajar, membuka diri terhadap pengalaman internasional, dan berkontribusi nyata bagi bangsa,” pungkasnya.
Program EDU-LEAD Malaysia–Indonesia 2026 diharapkan menjadi awal kerja sama berkelanjutan antara institusi pendidikan Indonesia dan Malaysia dalam bidang pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, serta pengembangan sumber daya manusia.
Sunariyanto



































