Lebak, Banten —LiputanBerita62.com
Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Ormas Badak Banten Rangkasbitung menggelar atraksi debus kemanusiaan di Alun-alun Rangkasbitung, tepat di depan Kantor Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Lebak, pada Jumat, 17 Januari 2026. Aksi budaya tersebut dilaksanakan sebagai upaya penggalangan dana bagi warga Hunian Sementara (Huntara) Lebakgedong yang hingga kini masih bertahan dalam kondisi darurat pasca bencana.
Atraksi debus yang sarat nilai historis dan identitas masyarakat Banten itu menyedot perhatian warga yang melintas dan memadati area alun-alun. Selain menjadi tontonan budaya, kegiatan ini juga menjadi media penyampaian pesan kemanusiaan dan kritik sosial atas lambannya penyelesaian hunian tetap bagi para penyintas bencana di Kecamatan Lebakgedong.
Ketua Badak Banten DPC Rangkasbitung, Hendrik GOBREG, menegaskan bahwa aksi debus kemanusiaan tersebut lahir dari kegelisahan mendalam terhadap kondisi warga Huntara yang seolah terlupakan oleh waktu dan kebijakan.
“Debus yang kami gelar hari ini bukan sekadar pertunjukan. Ini adalah suara hati rakyat Banten. Sudah bertahun-tahun warga Huntara Lebakgedong hidup dalam keterbatasan, tanpa kepastian hunian yang layak. Janji terus berganti, tapi kenyataan di lapangan tidak berubah,” tegas Hendrik GOBREG.
Menurutnya, pemilihan lokasi di depan Kantor Pemda Lebak memiliki makna simbolik sebagai ruang publik dan pusat kebijakan daerah.
“Kami sengaja hadir di depan kantor pemerintahan daerah agar pesan ini sampai langsung ke pengambil kebijakan. Kami tidak melawan siapa pun, tapi kami melawan lupa. Lupa bahwa masih ada warga Lebak yang bertahan di huntara dalam kondisi yang tidak manusiawi,” ujarnya.
Hendrik menambahkan, debus merupakan simbol keteguhan dan keberanian masyarakat Banten dalam menghadapi luka sosial dan ketidakadilan.
“Debus adalah identitas kami. Lewat debus, kami menyampaikan perlawanan yang bermartabat. Warga Huntara Lebakgedong bukan angka statistik, mereka adalah manusia yang punya hak hidup layak, hak atas rumah, dan hak atas masa depan. Enam tahun bukan waktu singkat, ini bukti ada persoalan serius yang belum diselesaikan secara tuntas,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa Badak Banten hadir bukan untuk menciptakan kegaduhan, melainkan menjaga ingatan kolektif publik.
“Selama warga masih tinggal di huntara, selama itu pula tanggung jawab moral negara belum selesai. Kami ingin tragedi ini tidak hanya menjadi berita lama yang perlahan dilupakan,” tandas Hendrik GOBREG.
Sementara itu, Wakil Ketua Badak Banten DPC Rangkasbitung, Ayik Fuat Fauzi, menyampaikan bahwa aksi debus kemanusiaan tersebut juga dibarengi dengan penggalangan dana terbuka yang melibatkan partisipasi masyarakat luas.
“Alhamdulillah, respons masyarakat cukup besar. Dana yang terkumpul akan kami salurkan langsung untuk membantu kebutuhan dasar warga Huntara Lebakgedong. Kami sadar ini belum bisa membangun rumah permanen, tapi ini adalah aksi nyata, bukan sekadar wacana,” ujar Ayik.
Ayik menilai, penggunaan debus sebagai medium perjuangan sosial merupakan bentuk kritik yang elegan namun mengena.
“Kami ingin berbicara di ruang publik, bukan hanya di ruang-ruang formal. Budaya Banten tidak boleh hanya menjadi tontonan, tetapi juga alat perjuangan sosial untuk membela rakyat kecil,” katanya.
Aksi debus kemanusiaan tersebut juga mendapat perhatian dari warga yang melintas dan menyaksikan langsung kegiatan di lokasi. Sejumlah warga mengaku tersentuh dan prihatin dengan kondisi warga Huntara Lebakgedong.
“Awalnya saya kira ini hanya pertunjukan debus biasa, tapi setelah tahu tujuannya untuk membantu warga huntara, saya jadi terenyuh. Enam tahun tinggal di huntara itu bukan waktu sebentar. Harusnya sudah ada solusi yang jelas,” ujar seorang warga yang melintas dan enggan disebutkan namanya.
Warga lainnya yang turut menonton juga menilai aksi tersebut sebagai bentuk kepedulian nyata yang patut diapresiasi.
“Kalau ormas dan masyarakat saja masih peduli dan turun langsung, masa pemerintah diam? Aksi seperti ini membuka mata publik bahwa masih ada warga Lebak yang hidupnya belum layak,” ungkap warga lain yang juga tidak ingin disebutkan identitasnya.
Melalui aksi debus kemanusiaan ini, Badak Banten DPC Rangkasbitung berharap muncul solidaritas kolektif serta perhatian serius dari pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan agar persoalan hunian warga penyintas bencana di Lebakgedong segera mendapat solusi yang adil dan bermartabat.






























