“Rusyadianto: Dari Pesantren Lahir Pejuang, Dari Desa Tumbuh Peradaban”

Agama, Banten, Nasional602 Dilihat

Liputanberita62com Lebak, 22 Oktober 2025

Dalam suasana penuh khidmat di momentum Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025, Ketua Desa Bersatu Kabupaten Lebak, Rusyadianto, menyampaikan pesan mendalam bagi seluruh santri di Indonesia.

Dengan sikap tegas namun penuh ketulusan, beliau mengangkat tangan kanan — simbol semangat juang — seraya mengingatkan bahwa perjuangan santri bukan hanya tercatat dalam lembar sejarah, tetapi juga hidup dalam denyut nadi bangsa hingga hari ini.

“Para santri dahulu berjuang bukan dengan senjata, tetapi dengan iman dan ilmu. Mereka menyalakan obor kemerdekaan dari surau-surau kecil dan pesantren sederhana. Dari tempat itulah lahir semangat jihad fi sabilillah untuk membela negeri,” tutur Rusyadianto dengan suara bergetar.

Beliau menegaskan, perjuangan santri di masa lalu menjadi fondasi kuat bagi berdirinya bangsa Indonesia. Saat penjajah datang menindas, para santri tak gentar. Mereka berkorban jiwa dan raga, berjuang dengan doa, ilmu, dan pengabdian. Kini, perjuangan itu diteruskan dengan menjaga moral, membangun desa, serta menebar kedamaian di seluruh penjuru negeri.

“Santri masa kini harus menjadi lentera di tengah gelapnya zaman. Jadilah penjaga nilai dan pelanjut cita-cita ulama terdahulu. Tugas kita bukan hanya menuntut ilmu, tapi menanamkan akhlak, menjaga keikhlasan, dan mengabdi untuk bangsa,” ujarnya penuh makna.

Rusyadianto juga mengajak seluruh elemen masyarakat — terutama para pemimpin desa — untuk meneladani keikhlasan dan semangat perjuangan para santri. Ia menekankan bahwa pembangunan sejati dimulai dari hati yang bersih, niat yang tulus, dan semangat gotong royong sebagaimana nilai-nilai yang diwariskan pesantren.

“Mari kita jaga semangat santri agar tak padam. Dari pesantren lahir para pejuang moral. Dari desa, lahir penggerak bangsa. Bersama santri, kita rawat Indonesia agar tetap damai, berakhlak, dan beradab,” tambahnya dengan nada penuh doa.

Momentum Hari Santri Nasional 2025 ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya hasil perjuangan senjata, tetapi juga buah dari kekuatan doa para santri dan ulama. Mereka menundukkan kepala di malam hari, memohon agar negeri ini dijauhkan dari perpecahan dan senantiasa dijaga dalam rahmat Allah SWT.

“Semoga semangat santri senantiasa menjadi napas perjuangan bangsa. Selamat Hari Santri Nasional 2025. Dari hati yang tulus, saya doakan seluruh santri Indonesia tetap istiqamah dalam menebar ilmu, iman, dan kedamaian,” tutup Rusyadianto penuh haru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *